Situasi Geopolitik di Timur Tengah Jadi Pendorong Indonesia Percepat Pembangunan PLTS 100 GW

0
PLTS
Ilustrasi rumah yang menggunakan PLTS.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Pemerintah Indonesia menetapkan target ambisius yaitu membangun kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 Giga Watt (GW) hanya dalam waktu tiga tahun. Langkah raksasa ini merupakan instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto sebagai benteng pertahanan energi di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Namun, di balik hamparan panel surya yang dibayangkan akan menutupi daratan nusantara, muncul pertanyaan besar yaitu ke mana aliran listrik raksasa ini akan bermuara?

Mencari “Rumah” bagi Arus Listrik

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Sripeni Inten Cahyani, menekankan bahwa kunci keberhasilan megaproyek ini bukan hanya pada pembangunan fisik pembangkit, melainkan pada kesiapan sisi permintaan (demand). Menurutnya, keseimbangan antara pasokan dan konsumsi adalah harga mati agar investasi ini tidak terbuang sia-sia.

Baca Juga :  Ancaman "Super Flu" Mengintai Anak-Anak Indonesia, Kemenkes Catat 62 Kasus

“Jadi gini, di dalam membangun suatu suplai, dalam hal ini adalah listrik, dalam hal ini ada pembangkit listrik, harus bicara demand. Jadi 100 Giga Watt tadi harus ketemu demand-nya 100 gigawatt,” tegas Sripeni dalam diskusi di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Untuk menyerap daya tersebut, pemerintah tengah merancang ekosistem baru. Mulai dari konversi besar-besaran kendaraan bermotor ke tenaga listrik, hingga pemanfaatan di tingkat akar rumput melalui elektrifikasi 80 ribu desa.

Bayangannya, setiap desa akan menjadi pusat ekonomi mandiri yang didukung listrik 1 Mega Watt (MW) untuk menggerakkan cold storage nelayan hingga industri pengolahan lokal.

Potensi serapan terbesar lainnya datang dari sektor teknologi tinggi dan hilirisasi.

Baca Juga :  Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto Resmi Tidak Naikkan Harga BBM per 1 April 2026

“Ada hilirisasi industri pengolahan mineral, dan itulah langkah kami di situlah letak konsumsi listrik terbesar. Yang kedua, data center. Satu data center bisa 1 GW loh,” tambah Sripeni.

Urgensi Strategis di Tengah Badai Dunia

Ambisi ini bukan sekadar tren ramah lingkungan. Bagi Presiden Prabowo Subianto, beralih ke tenaga surya adalah upaya penyelamatan kedaulatan negara. Dalam kunjungannya ke Jepang bulan lalu, ia menegaskan bahwa Indonesia harus berlari kencang untuk lepas dari ketergantungan energi fosil yang rentan terhadap gejolak dunia.

“Kami ingin bergerak sangat cepat untuk menggunakan listrik dari energi surya. Kami memiliki rencana dan kami bertekad untuk berjalan secepat mungkin, dalam waktu tiga tahun, kami ingin mencapai 100 gigawatt energi surya,” ujar Prabowo dalam forum bisnis di Tokyo, (30/3/2026).

Baca Juga :  Timnas Indonesia Analisis Lini Depan di Piala AFF 2024, Mengapa Penyerang Tumpul?

Langkah cepat ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengancam stabilitas pasokan energi nasional. Prabowo menilai, situasi tersebut memberikan “ketidakpastian strategis” bagi keamanan Indonesia.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah tidak hanya bertaruh pada matahari. Sumber daya domestik lainnya seperti panas bumi serta pengembangan bahan bakar nabati tingkat tinggi, yakni biodiesel B50 dan bioetanol, terus digenjot.

Harapannya, dalam tiga tahun ke depan, Indonesia tidak hanya mampu menyerap cahaya matahari sebagai listrik, tetapi juga mengubahnya menjadi kemandirian ekonomi yang tak tergoyahkan oleh konflik di belahan dunia lain.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com