Aktivis Generasi Z Ditangkap, Harapan Reformasi di Madagaskar Semakin Surut

0
Madagaskar
Ilustrasi Kerumunan orang-orang demonstran.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, ANTANANARIVO – Harapan yang sempat melambung tinggi di jalanan Madagaskar kini berganti menjadi kabut ketakutan. Sejumlah aktivis muda Gen Z, yang setahun lalu menjadi motor penggerak penggulingan kekuasaan, kini justru berakhir di balik jeruji besi di bawah kendali rezim militer yang sempat mereka dukung.

Pada Minggu (12/04/2026), aparat keamanan resmi menciduk empat aktivis muda yaitu Herizo Andriamanantena, Miora Rakotomalala, Dina Randrianarisoa, dan Nomena Ratsihorimanana. Penangkapan ini terjadi hanya dua hari setelah mereka menuntut kejelasan tanggal pemilihan umum sebuah janji demokrasi yang hingga kini masih abu-abu.

Tuduhan Tanpa Bukti

Kuasa hukum para aktivis, Aliarivelo Maromanana, menyatakan bahwa kliennya dituduh melakukan konspirasi kriminal dan merusak keamanan negara. Namun, ia menegaskan bahwa tudingan tersebut hanyalah isapan jempol.

“Mereka semua membantahnya dan tidak ada bukti sama sekali,” tegas Maromanana.

Kondisi para tahanan pun memprihatinkan. Setelah dua aktivis yang sempat dibebaskan dilarikan ke rumah sakit pada Selasa lalu, kecurigaan publik mencuat. Hingga Jumat, hanya Andriamanantena yang masih ditahan, sementara pihak kepolisian berdalih bahwa para aktivis tersebut jatuh sakit secara alami.

Baca Juga :  Dewan Perdamaian Ungkap Rencana Bertahap Lunakkan Hamas di Gaza

Ujian Demokrasi yang Gagal

Penangkapan ini menandai titik balik yang pahit bagi publik Madagaskar. Kolonel Michael Randrianirina, yang merebut kekuasaan melalui kudeta pada Oktober 2025 dengan dukungan penuh gerakan pemuda, kini dianggap mengulangi pola represif rezim sebelumnya.

Ketakandriana Rafitoson dari Transparency International Madagascar menyebut tindakan ini sebagai kegagalan besar pemerintah transisi.

“Ini adalah pola yang kita lihat di bawah pemerintahan sebelumnya dan banyak yang berharap akan dipatahkan dengan transisi ini. Jadi protes Jumat lalu adalah ujian bagi rezim ini dan mereka gagal,” tutur Rafitoson.

Krisis Ekonomi dan Bayang-Bayang Asing

Di tengah gejolak politik, perut rakyat Madagaskar tak bisa menunggu. Sebagai negara termiskin kelima di dunia dengan PDB per kapita hanya US$ 545 (sekitar Rp 8,8 juta), krisis dasar seperti air dan listrik masih mencekik 32 juta penduduknya.

Baca Juga :  5 'Little Treat' Gen Z yang Bisa Kamu Coba untuk Hidup Lebih Happy

Elliot Randriamandrato, pemimpin kelompok Gen Z Madagasikara, melihat tidak adanya kemauan politik untuk berubah. “Untuk saat ini, tidak ada reformasi nyata yang diterapkan oleh pemerintah. Itulah mungkin mengapa semua orang sangat frustrasi, karena kita tidak melihat sesuatu yang jelas dan nyata,” katanya.

Ia juga mengkritik sistem pemilu yang korup: “Kami meminta lebih banyak kejelasan tentang tanggal konsultasi konstitusi… Ini adalah sistem yang hanya memungkinkan orang dengan lebih banyak uang untuk menang.”

Prahara Korupsi dan Jejak Kremlin

Istana kepresidenan melalui juru bicara Harry Laurent Rahajason justru mengalihkan sorotan pada isu keamanan nasional dan skandal korupsi raksasa senilai 3.811 miliar Ariary (sekitar Rp 12,8 triliun) yang diklaim mengancam nyawa presiden.

Baca Juga :  Wabup Bogor Sidak Irigasi Rusak di Bogor Barat, Pastikan Segera Diperbaiki

“Otoritas sedang menyelidiki korupsi yang diperkirakan mencapai 3.811 miliar Ariary Madagaskar dan menghubungkan investigasi tersebut dengan ancaman terhadap presiden,” ungkap Rahajason.

Namun, kekhawatiran terbesar para pemuda saat ini adalah semakin mesranya hubungan Randrianirina dengan Rusia. Pasca kunjungan ke Moskow pada Februari lalu, Madagaskar mulai dibanjiri Alutsista dari Kremlin, bahkan personel militer Rusia kini terlihat bertugas sebagai pengawal pribadi presiden.

Shely Andriamihaja, anggota Gen Z Madagasikara, mengungkapkan ketakutannya akan kedaulatan negara yang kian goyah. “Kami sangat khawatir dengan risiko penangkapan negara baru dari negara-negara asing,” tegasnya.

Menutup perdebatan soal pengawal asing tersebut, Rahajason membela diri dengan membandingkan situasi di Madagaskar dengan negara lain. “Mengapa Anda menanyakan pertanyaan ini? Mengapa presiden Ukraina memanggil penjaga berkebangsaan lain? Mengapa itu normal? Dan mengapa, ketika seorang Malagasi menggunakan jasa penjaga internasional, mengapa itu tidak normal?” pungkasnya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com