Dari Sesepuh ke Generasi Muda, Ngalokat Cai Terus Dilestarikan di Bantarkaret

0
Warga Kampung Jatake Nutug, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, melaksanakan prosesi pelarungan sesajen ke aliran Sungai Cikaniki dalam rangka tradisi Ngalokat Cai, sebagai bentuk rasa syukur sekaligus upaya menjaga kelestarian alam dan warisan budaya leluhur. Foto : Andres/Narasitoday.com

NARASITODAY.COM, BOGOR- Ratusan warga Kampung Jatake Nutug, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, kembali menggelar tradisi Ngalokat Cai di aliran Sungai Cikaniki.

Tradisi turun-temurun ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat terhadap alam sekaligus upaya menjaga kelestarian budaya warisan leluhur.

Kegiatan adat yang telah berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun ini dipimpin oleh sesepuh kasepuhan Jatake Nutug, Abah Odih yang akrab disapa Abah Galer.

Dalam sambutannya usai ritual, ia menegaskan bahwa tradisi yang dijalankan bukanlah bentuk kemusyrikan seperti yang kerap disalahpahami sebagian pihak.

“Abah mah tidak merasakan musyrik. Musyrik itu menduakan Allah. Kalau Abah tidak merasa menduakan Allah, karena tetap kita mintanya kepada Allah. Ini bentuk syukur kepada yang menciptakan langit dan bumi,” ujarnya.

Baca Juga :  Bergerak Cepat, Pemkab Bogor Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Bencana Sukabumi

Abah Galer juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagaimana falsafah yang diwariskan para leluhur, gunung pohonan, lamping awian, legok sawahan, pasir kebonan. Filosofi ini menggambarkan harmoni pemanfaatan alam sesuai fungsinya.

“Ritual Ngalokat Cai sendiri sarat makna. Dalam prosesi adat, masyarakat melakukan “mipit amit ngala menta”, sebagai simbol izin dan rasa hormat kepada alam,” katanya dengan tegas berbahasa Sunda. Minggu (3/05/2025).

Dia juga bilang “nyukcruk jalur karuhun mapaykeun tapak”, menelusuri jejak leluhur sebagai bentuk pelestarian nilai tradisi.

Baca Juga :  Pekerja Pemasang WIFI Tewas Tersengat Listrik di Cigudeg, Tiga Rekan Alami Luka Bakar

Salah satu rangkaian kegiatan yang menarik adalah “nasi comot”. Setiap warga membawa nasi dari rumah, kemudian diambil sebagian untuk dikumpulkan sebagai sedekah bersama.

Tradisi ini mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong yang masih kuat di tengah masyarakat.

Ketua panitia pelaksana, Yosep, menjelaskan bahwa selain ritual adat, kegiatan ini juga diisi dengan pelarungan sesajen ke sungai serta pelepasan ikan sebagai bentuk kepedulian terhadap ekosistem.

“Pelepasan ikan ini menjadi simbol bahwa kami tidak hanya mengambil dari alam, tetapi juga menjaga dan merawatnya agar tetap lestari,” kata Yosep.

Baca Juga :  Kebakaran Hanguskan Ruang Guru SDN di Parung Panjang, Soal Ujian Ikut Terbakar

Ia menuturkan, tradisi Ngalokat Cai diperkirakan telah berlangsung hingga tujuh generasi. Meski waktu pasti awal pelaksanaannya tidak diketahui, para sesepuh meyakini tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Melalui kegiatan ini, masyarakat berharap generasi muda dapat terus menjaga warisan budaya yang ada. Tidak hanya melestarikan, tetapi juga memperkenalkan tradisi lokal ke khalayak yang lebih luas.

“Kami ingin generasi mendatang tetap menjaga, merawat, bahkan mempromosikan budaya ini agar tidak hilang ditelan zaman,” pungkas Yosep.***

Wartawan : Andreas