NARASITODAY.COM, JAKARTA – Riuh rendah spekulasi mengenai stabilitas ekonomi global, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampil membawa angin segar. Dengan nada bicara yang tenang namun tegas, Purbaya menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi “sehat dan kuat”, dibuktikan dengan capaian pertumbuhan sebesar 5,61% pada kuartal I-2025.
Namun, di balik angka-angka optimistis tersebut, Purbaya menyadari adanya ganjalan psikologis yang menghantui para pelaku usaha yaitu sebuah rasa takut yang dipicu oleh ingatan kolektif masa lalu.
Melawan Narasi Ketakutan
Dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Purbaya menyoroti adanya tekanan psikologis yang masih membayangi dunia usaha. Ia menyayangkan banyaknya narasi negatif yang mencoba membandingkan kondisi saat ini dengan krisis moneter puluhan tahun silam.
“Saya monitor terus keadaannya (dunia usaha) ya, kelihatannya walaupun bagus, orang masih agak takut. Karena banyak yang nakut-takutin, kayak Anda tuh nakut-takutin, katanya mau 1998,” ujar Purbaya dengan nada sedikit menyentil, sebagaimana dikutip pada Kamis (7/5/2026).
Purbaya meyakinkan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam. Fokus utama pada kuartal II-2026 adalah menjaga daya beli masyarakat sebagai mesin utama pertumbuhan. Ia memastikan bahwa likuiditas di pasar keuangan lebih dari cukup untuk menopang perputaran roda ekonomi nasional.
“Pebisnis gak usah takut, kita akan membaik terus ke depan. Perbankan akan kita pastikan uangnya cukup di sistem perekonomian sehingga dunia usaha bisa dapat akses ke pembelian,” tegasnya.
Sentuhan kebijakan yang lebih manusiawi ditunjukkan Purbaya saat membahas industri tekstil, sepatu, dan manufaktur berorientasi ekspor. Sektor-sektor ini sering kali dianaktirikan oleh perbankan konvensional karena dianggap sebagai sunset industry atau industri yang mulai meredup.
Untuk menghidupkan kembali gairah sektor tersebut, Menkeu menjanjikan akses kredit murah melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank. Kredit ini dikhususkan bagi perusahaan yang ingin melakukan peremajaan mesin agar tetap kompetitif di pasar global.
“Yang perlu peremajaan mesin nanti dipastikan bisa dapat akses ke bunga yang lebih rendah atau bunga yang LPEI 6% kalau enggak salah. Kalau perlu kita turunkan, kita turunkan,” kata Purbaya.
Langkah ini diambil setelah dirinya berdialog langsung dengan para pelaku industri tekstil yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan modal kerja. Purbaya ingin menghapus stigma negatif yang melekat pada sektor padat karya tersebut.
“Karena dianggap sunset industry, dia susah sekali dapat pinjaman ke bank, makanya saya tadi pakai LPEI. Kita sudah ketemu dengan perusahaan tekstil atau asosiasi itu, dan kita akan menjalankan dalam waktu enggak terlalu lama,” pungkasnya.
Dengan strategi ini, pemerintah berupaya memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya mentereng di atas kertas, tetapi juga dirasakan oleh para buruh pabrik dan pengusaha yang selama ini berjuang di tengah keterbatasan modal. Kini, bola berada di tangan para pelaku usaha untuk menyambut “tangan terbuka” pemerintah dan terus bergerak maju.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














