NARASITODAY.COM,NIJMEGEN – Suasana di Rumah Sakit Radboudumc, kota Nijmegen, Belanda, mendadak tegang namun terkendali. Sebanyak 12 anggota staf medis terpaksa menjalani karantina selama enam minggu sebagai langkah pencegahan. Keputusan drastis ini diambil setelah mereka menangani sampel darah dan urin pasien hantavirus tanpa mengikuti protokol keamanan tertinggi yang ditetapkan.
Meski risiko infeksi dinyatakan sangat rendah dan operasional rumah sakit tetap berjalan normal, insiden ini menggarisbawahi betapa sulitnya menerapkan prosedur super ketat di tengah tekanan penanganan wabah baru.
Kelalaian Kecil, Risiko Besar
Menteri Kesehatan Belanda, Sophie Hermans, memberikan penjelasan langsung di hadapan parlemen terkait situasi di Radboudumc. Pasien yang memicu karantina ini adalah salah satu penumpang kapal pesiar mewah Hondius yang tiba di rumah sakit pada 7 Mei lalu.
“Yang terjadi adalah prosedur ketat telah diikuti, tetapi bukan prosedur paling ketat yang berlaku dalam kasus yang melibatkan hantavirus ini,” ujar Hermans dalam laporannya kepada parlemen, Selasa (12/5/2026).
Hermans menekankan bahwa langkah isolasi ini murni bentuk kewaspadaan. “Kemungkinan staf terinfeksi kecil, tetapi karena kita tahu kita berurusan dengan virus yang serius, rumah sakit telah mengatakan bahwa kita akan berhati-hati di sini,” tambahnya.
Jejak Wabah di Kapal Hondius
Dunia medis internasional kini tengah berpacu dengan waktu untuk meredam wabah yang bermula dari kapal pesiar Hondius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan jumlah kasus terkonfirmasi telah meningkat menjadi sembilan orang. Hingga saat ini, virus yang biasanya menyebar melalui hewan pengerat ini telah merenggut nyawa tiga orang, termasuk sepasang suami istri asal Belanda dan seorang warga Jerman.
Meskipun mematikan, para ahli menekankan bahwa hantavirus tidak semudah Covid-19 dalam hal penularan antarmanusia.
“Ini benar-benar situasi yang berbeda dari Covid. Dengan pengetahuan yang kita miliki dan langkah-langkah yang kita ambil, kita yakin kita dapat mengendalikan virus ini,” tegas Menteri Hermans.
Pemulangan dan Isolasi Global
Saat ini, kapal Hondius tengah membelah samudera menuju Belanda dengan 25 awak kapal serta tim medis di atasnya, diperkirakan akan bersandar pada 17 Mei mendatang. Sementara itu, gelombang pemulangan penumpang melalui jalur udara terus dipantau ketat.
Di Madrid, Spanyol, seorang warga dinyatakan positif dan mengalami gejala sesak napas, sementara di Prancis, seorang penumpang dilaporkan berada dalam perawatan intensif. Ketegangan juga merambah hingga Amerika Serikat, di mana 18 penumpang telah diterbangkan kembali dan dikarantina, termasuk satu orang yang dirawat di unit penahanan biologis Nebraska.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan bahwa masa inkubasi hantavirus yang panjang mungkin akan memunculkan kasus-kasus baru dalam beberapa minggu ke depan.
“Saat ini, tidak ada tanda-tanda bahwa kita sedang melihat awal dari wabah yang lebih besar, tetapi tentu saja situasinya dapat berubah,” kata Tedros dalam konferensi pers di Madrid.
Di Nijmegen, 12 tenaga medis kini hanya bisa menunggu dalam isolasi. Mereka menjadi pengingat nyata bahwa dalam menghadapi patogen yang mematikan, celah sekecil apa pun dalam protokol medis bisa berarti pertaruhan nyawa yang panjang.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














