NARASITODAY.COM,KUALA LUMPUR – Politik Malaysia kembali berguncang. Di tengah riuh rendah Konvensi Kepemimpinan Pakatan Harapan pada Minggu (17/5/2026), dua mantan menteri andalan Perdana Menteri Anwar Ibrahim, Rafizi Ramli dan Nik Nazmi Nik Ahmad, mengambil langkah ekstrem yaitu mengosongkan kursi parlemen dan angkat kaki dari partai penguasa.
Keputusan ini tidak hanya mengejutkan publik, tetapi juga menjadi sinyal keretakan serius di tubuh koalisi pemerintahan, memicu spekulasi kuat bahwa Malaysia tengah menuju pemilihan umum (Pemilu) dini yang dipercepat tahun ini.
Berikut adalah laporan lengkap mengenai drama politik di Negeri Jiran:
Langkah Berani Dua Mantan Menteri
Rafizi Ramli, mantan menteri ekonomi yang sempat digadang-gadang sebagai putra mahkota politik Anwar Ibrahim, bersama mantan Menteri Lingkungan Hidup, Nik Nazmi Nik Ahmad, resmi mengumumkan pengunduran diri mereka.
Melalui pernyataan bersama, keduanya memastikan akan mengosongkan kursi parlemen mereka pada Senin (18/5/2026) dan melayangkan surat resmi kepada Ketua Parlemen.
Tak sekadar mundur dari jabatan, mereka juga memilih membelot dari Partai Keadilan Rakyat (PKR) demi mengambil alih sebuah partai kecil, Partai Persatuan Malaysia (PPM).
Partai bentukan tahun 2016 yang berbasis di Penang tersebut kini bersiap menjadi kendaraan politik baru bagi kedua tokoh kritis ini setelah mereka melakukan prosesi penyerahan simbolis bersama sang pendiri partai, Tan Gin Theam.
Hubungan Rafizi dan Anwar memang mendingin sejak Juni tahun lalu, tepat setelah Rafizi dan Nik Nazmi terdepak dari kabinet akibat kalah dalam pemilihan internal PKR. Sejak saat itu, Rafizi yang dikenal vokal perlahan berubah menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan Anwar.
Anwar Ibrahim di Tengah Badai Koalisi
Ironisnya, keputusan mundurnya dua politisi muda ini terjadi hampir bersamaan dengan pidato Anwar Ibrahim di hadapan para simpatisannya. Belum jelas apakah Anwar sudah mengetahui manuver mengejutkan dari mantan anak didiknya tersebut saat berdiri di podium konvensi.
Dalam pidatonya, Anwar secara terbuka mengakui adanya keretakan di dalam tubuh “Pemerintahan Persatuan”sebuah koalisi rapuh yang menyatukan faksi-faksi lama seperti Pakatan Harapan dan Barisan Nasional. Menanggapi tekanan politik yang kian memanas, Anwar memberi sinyal hijau untuk mempercepat Pemilu, yang aslinya baru dijadwalkan pada tahun 2028.
“Tanggal (pemilu umum) adalah keputusan Perdana Menteri, tetapi saya harus mendengarkan saran dan (pandangan) teman-teman,” ujar Anwar menegaskan, sembari menambahkan bahwa koalisinya siap bertarung di seluruh negara bagian.
Sinyal Pemilu Dini di Bulan Juli
Mundurnya Rafizi dan Nik Nazmi diprediksi akan menjadi katalis yang mempercepat runtuhnya stabilitas politik Anwar. Sebelum pengumuman dramatis ini terjadi, kedua anggota parlemen tersebut sempat membocorkan kepada Reuters pada Maret lalu bahwa Pemilu sela atau Pemilu nasional dapat digelar paling cepat pada bulan Juli mendatang, berbarengan dengan agenda pemilu di beberapa negara bagian.
Dengan kosongnya dua kursi parlemen strategis dan berpindahnya pengaruh Rafizi ke partai oposisi baru, posisi tawar Anwar Ibrahim kini berada di ujung tanduk. Bulan Juli yang diprediksi menjadi laga penentuan, tampaknya akan datang lebih cepat bagi sang Perdana Menteri.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














