NARASITODAY.COM,SEOUL – Sutradara kondang Park Joon-hwa menyampaikan permohonan maaf terbuka sekaligus menegaskan bahwa kekeliruan terkait akurasi sejarah dalam adegan penobatan di drama hit Perfect Crown adalah murni “kelalaian imajinasi,” bukan kesengajaan untuk mendistorsi sejarah.
Melansir laporan Korea JoongAng Daily, Rabu (20/5/2026), polemik panas ini menggelinding pasca-penayangan episode terakhir drama tersebut pada Sabtu (16/5/2026) lalu. Dalam sebuah wawancara eksklusif, sutradara yang sukses menakhodai Alchemy of Souls ini tampak emosional hingga beberapa kali menitikkan air mata saat meluruskan badai kritik yang menerpa karyanya.
Tanpa ragu, Park menyatakan bahwa dirinya siap pasang badan dan menanggung seluruh konsekuensi dari kelalaian tersebut secara jantan.
“Dari awal hingga akhir, saya lah yang bertanggung jawab penuh atas apa yang ada di dalam drama ini,” ujar Park Joon-hwa dengan suara bergetar.
Ia menambahkan bahwa dirinya merasa harus menghadapi dan meluruskan langsung berbagai kritik yang muncul ke permukaan akibat ketidakmampuannya dalam mengawal detail estetika produksi.
Detail Properti yang Memantik Amarah Publik
Gelombang protes dari publik Korea Selatan bermula dari penayangan episode 11 pada Jumat pekan lalu. Dalam adegan sakral tersebut, karakter Grand Prince I-An (diperankan oleh Byeon Woo-seok) naik takhta dengan mengenakan mahkota yang memiliki sembilan untaian manik-manik, sementara para abdi istana berlutut sambil meneriakkan kata “Cheonse!” (panjang umur sepuluh ribu tahun).
Detail visual dan dialog ini langsung memicu kemarahan karena secara historis, mahkota sembilan untaian dan seruan “Cheonse” menandakan status wilayah bawahan atau dinasti yang tunduk pada kekaisaran lain, seperti era Joseon kuno sebelum merdeka.
Untuk menggambarkan Korea sebagai monarki yang berdaulat penuh dalam dunia fiksi alternatif tersebut, sang penguasa seharusnya mengenakan mahkota 12 untaian (sibi myeollyugwan) seperti yang dipakai Raja Gojong saat mendeklarasikan Kekaisaran Korea pada 1897 didampingi seruan takhta berupa “Manse!”.
Selain mahkota, penonton juga mengkritik adegan minum teh oleh Seong Hui-ju (diperankan oleh IU) yang dianggap meniru tata cara minum teh khas China.
Terjebak dalam Ruang Fantasi Sejarah Alternatif
Suasana wawancara terasa semakin mendalam ketika Park menjelaskan bahwa kesalahan fatal ini lahir karena pemikirannya yang terlalu kaku dalam memandang konsep sejarah alternatif (alternate history) yang diusung oleh drama tersebut.
Latar cerita Perfect Crown sebenarnya dibangun dari sebuah angan-angan fiksi yang menyentuh yaitu bagaimana indahnya Korea hari ini jika masa-masa kelam seperti penjajahan Jepang (1910-1945) dan Perang Korea (1950-1953) tidak pernah terjadi di dunia nyata.
“Apa yang ingin disampaikan oleh penulis kami, saya pikir, adalah-jika masa lalu bangsa kita yang menyakitkan, termasuk Perang Korea dan periode di bawah masa penjajahan Jepang, jika itu semua tidak terjadi, tidakkah kita bisa tiba pada gambaran yang lebih bahagia dan indah?” papar Park sembari menyeka air matanya.
“Cerita ini dimulai dari fantasi itu. Jadi, konsultasi dan referensi yang kami gunakan seluruhnya dikalibrasi pada aturan istana Joseon.”
Ia mengakui terlalu kaku mengikuti arahan konsultan sejarah mengenai pakem penobatan era Joseon yang memang menggunakan mahkota sembilan untaian. Akibatnya, ia alpa merefleksikan eksistensi Kekaisaran Korea yang berdaulat penuh sebagai jembatan menuju masa depan fiksi yang bahagia tersebut.
Kejar Tayang Produksi dan Nasib Penulis Pemula
Ketika didesak mengenai detail skrip, Park mengklarifikasi bahwa seruan “Cheonse” memang ditulis oleh penulis skenario pemula, Yoo Ji-won. Namun, detail mahkota sembilan untaian sama sekali tidak tertulis secara eksplisit dalam naskah.
Hal tersebut murni terjadi karena mepetnya waktu pra-produksi yang hanya berkisar satu bulan untuk menyiapkan seluruh kostum dan properti seni. Di bawah tekanan waktu penayangan, tim artistik akhirnya cenderung mereplikasi properti dari proyek-proyek drama kolosal (saeguk) terdahulu yang memiliki adegan serupa.
Sebelum sang sutradara angkat bicara, tim produksi telah melayangkan permohonan maaf tertulis, diikuti surat permintaan maaf terbuka dari dua pemeran utama, IU dan Byeon Woo-seok, pada Senin (18/5/2026). Menurut keterangan Park, penulis naskah Yoo Ji-won juga berencana untuk segera merilis pernyataan pribadinya secara terpisah dalam waktu dekat.
Park Joon-hwa mengaku sangat menyayangkan kelalaian ini karena Perfect Crown mencetak kesuksesan luar biasa dengan raihan rating di atas 13 persen dan menjadi judul drama Korea global yang paling banyak ditonton di platform Disney+ dalam 28 hari pertama perilisannya.
Menyusul berakhirnya polemik panjang yang menguras energi ini, sutradara papan atas tersebut menyatakan bahwa dirinya memilih menepi sejenak dan belum memiliki rencana untuk mengambil proyek drama baru.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













