NARASITODAY.COM, NEW DELHI – Antrean kendaraan kini tampak lebih padat di berbagai sudut pompa pengisian bahan bakar di New Delhi. Para pengendara hanya bisa menatap pasrah ke arah layar digital dispenser BBM yang kembali menunjukkan angka baru yang lebih mahal.
Untuk keempat kalinya sepanjang bulan Mei 2026, perusahaan peritel minyak milik negara India terpaksa mengerek naik harga eceran bensin dan diesel akibat hantaman badai geopolitik di Timur Tengah.
Lonjakan harga yang mencekik ini dipicu oleh meroketnya harga minyak mentah dunia setelah pecahnya perang Iran. Melansir dari Reuters, Senin (25/5/2026), penyesuaian terbaru menetapkan harga solar atau diesel naik sebesar 2,71 rupee (US$0,0283) per liter, sedangkan bensin ikut merangkak naik sebesar 2,61 rupee per liter.
Langkah tidak populer ini diambil oleh tiga raksasa energi pelat merah yang menguasai hingga 90% pangsa pasar bahan bakar domestik India, yakni Indian Oil Corp, Bharat Petroleum Corp, dan Hindustan Petroleum Corp. Penyesuaian tarif dilakukan demi menutup pembengkakan biaya impor serta menekan kerugian korporasi akibat mahalnya minyak mentah global.
Ketiga perusahaan tersebut diketahui mulai kompak mencabut “rem” harga BBM sejak 15 Mei lalu, tepat setelah agenda pemilu di sejumlah negara bagian rampung digelar. Sejak pertengahan bulan tersebut, grafik harga diesel tercatat sudah melompat hingga 8,6%, sementara bensin terkerek naik sekitar 7,8%.
Melalui ketetapan terbaru ini, harga bensin di ibu kota New Delhi kini resmi menyentuh angka 102,12 rupee per liter, sementara solar dibanderol seharga 95,20 rupee per liter. Perlu dicatat, harga riil di lapangan akan bervariasi antar wilayah di India karena adanya perbedaan kebijakan pajak daerah di masing-masing area.
Efek Domino Selat Hormuz dan Sikap India
Gelombang kenaikan harga minyak di pasar internasional ini bersumber dari tersumbatnya jalur pasokan akibat konflik bersenjata Iran serta penutupan Selat Hormuz salah satu urat nadi pelayaran perdagangan minyak paling vital di kolong bumi. Sebagai negara importir minyak terbesar ketiga di dunia, India langsung berada di garis depan yang menerima hantaman ekonomi tersebut.
Guna mengantisipasi krisis yang lebih dalam, Pemerintah India kini mulai menggalakkan program penghematan nasional secara masif demi menekan konsumsi bahan bakar domestik sekaligus mengerem pembengkakan beban devisa untuk impor minyak.
Konsumsi Melonjak di Tengah Kepanikan Pasar
Menariknya, isu kenaikan harga ini justru memicu anomali di lapangan. Alih-alih sepi, perusahaan peritel BBM justru melaporkan adanya lonjakan volume penjualan yang cukup signifikan di tengah tren kenaikan harga ini, disinyalir akibat aksi borong dari konsumen yang khawatir harga akan kembali melambung.
Berdasarkan data internal perusahaan, Indian Oil Corp mencatat grafik penjualan diesel pada periode 1 hingga 22 Mei melonjak tajam hingga 18% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Tren serupa juga terjadi pada lini bensin yang mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 14%.
Namun, dinamika ini juga melahirkan masalah baru di sektor distribusi. Lonjakan harga telah memicu pergeseran perilaku konsumen berskala besar; sejumlah sektor industri dan pelanggan korporasi besar kini mulai beralih memburu pompa bensin ritel yang menawarkan harga lebih miring. Imbasnya, tekanan pasokan atau kelangkaan stok mulai membayangi beberapa wilayah di India.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













