Krisis Ekonomi Melanda Nigeria Mengubah Tradisi Perayaan Iduladha

0
Nigeria
Ilustrasi masyarakt yang sedang kepasar.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, ABUJA – Krisis biaya hidup yang kian mencekik tengah melanda Nigeria, mengubah total antusiasme warga Muslim dalam menyambut hari raya Iduladha tahun ini. Lonjakan drastis harga bahan pokok, meroketnya tarif transportasi, hingga melambungnya harga hewan ternak memaksa banyak keluarga mengambil keputusan pahit: memangkas pengeluaran, membatalkan tradisi mudik, hingga menghapus agenda ibadah kurban demi bisa bertahan hidup.

Mengutip laporan Al Jazeera pada Selasa (26/5/2026), potret kelesuan ekonomi ini tergambar jelas di ibu kota Abuja dan sekitarnya, di mana kemeriahan menyambut Lebaran Haji seolah meredup akibat tekanan inflasi yang parah.

Jeritan dari Ruang Madrasah dan Terminal Bus

Kondisi pilu salah satunya dirasakan oleh Yunus Akanji, seorang guru mengaji di sekolah Islam Nurul Bayan, Abuja. Pria yang biasanya membawa keluarga besar mudik ke Saki di Negara Bagian Oyo ini kini hanya bisa pasrah melihat situasi finansialnya yang merosot tajam. Tahun ini, rencana mudik ataupun menyembelih domba kurban bersama para muridnya dipastikan batal.

Akanji mengungkapkan bahwa dirinya sudah tidak memiliki pilihan lain selain merayakan hari raya dengan kondisi seadanya tanpa persiapan khusus.

“Saya telah menyimpulkan bahwa kami hanya akan merayakan dengan apa pun yang kami miliki,” kata Akanji dengan nada getir.

Baca Juga :  Pria Tewas Terlindas Truk di Citeureup, Diduga Tergelincir Saat Mendahului

Himpitan ekonomi ini terasa kian ganda bagi Akanji. Pasalnya, para orang tua murid madrasah yang ia kelola juga terdampak krisis, membuat mereka kesulitan membayar iuran yang menjadi tumpuan hidup sang guru.

“Sebagian besar dari mereka bahkan belum membayar,” ujar Akanji lirih.

Tidak hanya di ruang kelas, dilema serupa terjadi di terminal bus. Nafisa Ibrahim, seorang mahasiswi asal Ogun yang sedang menjalani program wajib militer National Youth Service Corps di Abuja, terpaksa gigit jari dan membatalkan niatnya pulang ke kampung halaman akibat ongkos transportasi yang melonjak tidak masuk akal.

“Transportasi sekarang sekitar 35.000 naira (sekitar Rp406.000), dibandingkan dengan 15.000 naira (sekitar Rp174.000) yang saya bayar saat datang ke Abuja pada bulan Februari,” tutur Nafisa membeberkan lonjakan tarif yang mencapai lebih dari dua kali lipat.

Toko Busana Sepi, Pasar Hewan Lesu

Kelesuan menjelang Iduladha juga memukul sektor usaha mikro. Di distrik Byazhin, Opeyemi Ibrahim, seorang desainer pakaian, meratapi tokonya yang sepi pelanggan padahal hari raya sudah di depan mata. Beban Opeyemi kian berat karena ia harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli bahan bakar generator akibat pemadaman listrik massal di tengah melonjaknya harga BBM.

Baca Juga :  Relawan Rudy-Jaro Ade Targetkan 80 Persen Suara di Kecamatan Cigudeg

“Ketika tidak ada listrik, kami harus menyalakan generator. Mengisinya membutuhkan biaya sekitar 10.000 naira (sekitar Rp116.000),” jelas Opeyemi. Langkah ini terpaksa ia lakukan karena tanpa listrik, suasana toko akan menjadi sangat panas dan ia membutuhkan daya stabil untuk menyetrika pakaian pelanggan yang tersisa.

Pemandangan paling memprihatinkan terlihat di Pasar Hewan Kubwa, Abuja. Para pedagang hanya bisa berdiri lesu di samping jajaran domba kurban tanpa hadirnya pembeli.

Seorang pedagang kawakan, Malam Ibrahim, hanya bisa terduduk lemas menyaksikan para calon pembeli datang silih berganti namun pergi dengan tangan hampa setelah mendengar harga yang ditawarkan.

Malam mengatakan bahwa daya beli masyarakat benar-benar ambruk karena para pengunjung hanya sekadar bertanya tanpa melakukan transaksi.

“Orang-orang datang, menanyakan harga, lalu berjalan pergi,” ungkap Malam.

Sembari menunjuk seekor domba bercorak hitam-putih di dekatnya, Malam memaparkan betapa gilanya kenaikan harga hewan kurban pada tahun ini akibat mahalnya biaya logistik pengiriman dari wilayah utara seperti Sokoto dan Kaduna.

“Domba ini dijual seharga 600.000 naira (sekitar Rp6,9 juta). Tahun lalu, ukuran yang sama berada di bawah 350.000 naira (sekitar Rp4,06 juta),” sebut Malam.

Baca Juga :  5 Ski Resort Asia yang Cocok untuk Pemula

Ia kini dihantui ketakutan jika hewan dagangannya tidak laku hingga hari raya usai, karena nilainya akan jatuh drastis dan mendatangkan kerugian besar.

“Bahkan para penjual pun menderita. Kami tidak berdoa untuk membawa mereka pulang kembali, tetapi melihat situasi saat ini, saya khawatir hal itu akan terjadi,” keluh Malam.

Bergesernya Esensi Perayaan: Fokus untuk Bertahan Hidup

Dampak inflasi yang parah ini merubah segalanya. Seorang pembeli wanita yang awalnya berniat membeli dua ekor domba, terpaksa pulang hanya dengan membawa satu ekor saja. Meskipun mata uang naira terlihat lebih stabil terhadap dolar AS dibandingkan tahun lalu, biaya distribusi barang di seluruh negeri terus merangkak naik setiap bulannya.

Kondisi sepi pembeli ini juga menjalar ke komoditas pangan seperti tomat, bawang merah, beras, hingga minyak goreng di pasar desa Kubwa. Salah seorang pedagang di pasar tersebut mengungkapkan secara lirih bahwa saat ini masyarakat sudah tidak lagi memikirkan kemeriahan hari raya, melainkan fokus pada bagaimana cara untuk bertahan hidup esok hari.

“Kami biasanya merayakan Iduladha dengan penuh kegembiraan. Sekarang kami hanya menghitung apa yang mampu kami beli,” ucap pedagang tersebut memungkasi realita pahit Lebaran di Nigeria tahun ini.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com