NARASITODAY.COM,NAKURU – Jerit ketakutan memecah keheningan malam di Lembah Rift, Kenya. Asrama Sekolah Menengah Atas Akademi Putri Utumishi di Gilgil, Kabupaten Nakuru, dilahap si jago merah pada Rabu malam. Insiden memilukan ini menewaskan sedikitnya 15 siswi yang tengah menuntut ilmu, sebagaimana dikonfirmasi oleh pihak kepolisian setempat pada Kamis (28/5/2026).
Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran yang menghanguskan ruang tidur para siswi tersebut masih diselimuti misteri. Kantor Polisi Gilgil melaporkan bahwa selain korban jiwa, sejumlah siswi lainnya juga mengalami luka-luka akibat peristiwa tragis ini.
Sisa-sisa mencekam dari malam jahanam itu terekam jelas dalam tayangan Citizen Television. Dinding-dinding asrama yang tadinya putih kini menghitam, bernoda asap tebal. Kaca-kaca jendela pecah berserakan di tanah, menjadi saksi bisu upaya keputusasaan para siswi untuk menyelamatkan diri dari kepungan api.
Suasana pasca-kebakaran diliputi kepanikan luar biasa. Di tengah kegelapan malam, ratusan siswi berlarian menyelamatkan diri ke segala arah, menjauh dari kobaran api yang membubung tinggi.
Pihak berwenang bergerak cepat dengan menerjunkan sekitar 50 petugas kepolisian untuk menyisir area sekitar sekolah. Tugas mereka adalah mencari anak-anak perempuan yang kemungkinan melarikan diri ke hutan atau pemukiman warga karena trauma.
“Karena terkejut, takut, dan cemas, banyak orang keluar, dan itu terjadi pada malam hari,” ujar Masoud Mwinyi, seorang komandan polisi senior, saat menggambarkan situasi mencekam tersebut kepada wartawan pada Kamis (28/5/2026).
Tragedi ini kembali mengorek luka lama dan memperpanjang catatan kelam dunia pendidikan di Kenya. Negara di Afrika Timur ini memang memiliki sejarah panjang terkait kasus kebakaran sekolah yang merenggut nyawa generasi muda. Berdasarkan data pemerintah, lebih dari 60 kasus pembakaran di sekolah menengah negeri tercatat sepanjang tahun 2018 saja.
Para peneliti menemukan fakta miris di balik rentetan peristiwa tersebut. Banyak dari kasus kebakaran di masa lalu sengaja disulut oleh para siswa sendiri sebagai bentuk protes frustrasi terhadap kedisiplinan sekolah yang terlampau keras serta kondisi fasilitas asrama yang buruk.
Belum kering air mata publik Kenya setelah pada tahun 2024 lalu kebakaran hebat juga menewaskan 21 murid di sebuah sekolah berasrama tingkat dasar di Kabupaten Nyeri yang letaknya tak jauh dari Nakuru.
Hingga detik ini, penyebab definitif dari bencana di Nyeri tersebut bahkan belum pernah terungkap secara jelas. Kini, duka yang sama kembali berulang di Gilgil, meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan dan menyisakan tanda tanya besar yang menuntut jawaban.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














