NARASITODAY.COM,JAKARTA – Keluhan mengenai hawa gerah dan terik matahari yang menyengat belakangan ini mulai sering terdengar di ruang-ruang publik. Fenomena ini bukan tanpa alasan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa Indonesia tengah bersiap memasuki masa transisi menuju awal musim kemarau 2026.
Berdasarkan laporan resmi prakiraan cuaca nasional, awal musim kemarau tahun ini sudah mulai menyelimuti wilayah Pulau Jawa sejak April dan Mei. Sementara itu, untuk pulau-pulau besar lainnya di Indonesia, gerbang musim kering diperkirakan baru akan terbuka secara bertahap mulai Mei hingga Agustus mendatang.
Menariknya, karakteristik kemarau tahun ini diprediksi tidak sama di setiap jengkal kemiringan khatulistiwa. Bagi penduduk di Sumatera bagian tengah dan selatan, Kalimantan bagian timur, serta beberapa titik di Sulawesi, durasi kemarau diproyeksikan akan terasa lebih singkat atau setidaknya sama dengan rata-rata tahun normalnya (periode acuan 1991-2020).
Sebaliknya, napas kemarau yang lebih panjang justru harus dihadapi oleh masyarakat di Pulau Jawa secara umum, meski beberapa wilayah di Jawa bagian timur diprediksi mendapatkan pengecualian dengan durasi yang cenderung normal atau lebih pendek.
Puncak Kemarau Membakar Agustus
Bagi masyarakat yang mengeluhkan cuaca panas saat ini, BMKG memberikan peringatan bahwa kondisi terik sesungguhnya baru akan mencapai puncaknya pada bulan Agustus 2026. Analisis data klimatologi menunjukkan bahwa Agustus akan menjadi bulan paling gersang bagi sebagian besar wilayah di Indonesia.
“Puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah di Indonesia diprediksi terjadi pada Agustus 2026, yang mencakup sekitar 61,4% wilayah atau 429 zona musim (ZOM),” tulis BMKG dalam rilis resmi Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia.
Sementara itu, sisa wilayah lainnya diproyeksikan mengalami puncak kemarau lebih awal di bulan Juli (12,6% wilayah) atau justru bergeser lebih lambat ke bulan September (14,3% wilayah).
Ketika kalender memasuki bulan Agustus, cengkeraman udara kering akan meluas secara agresif. Wilayah-wilayah seperti Sumatera bagian tengah dan selatan, bentangan Jawa Tengah hingga Jawa Timur, mayoritas Kalimantan dan Sulawesi, seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara, hingga sebagian Maluku dan Pulau Papua diprediksi akan berada di bawah dominasi cuaca kering yang pekat.
Memasuki bulan September, intensitas panas ekstrem diperkirakan mulai melandai di beberapa tempat, namun puncaknya masih akan bertahan di wilayah seperti sebagian Lampung, sebagian kecil Pulau Jawa, dan sebagian besar Nusa Tenggara Timur (NTT).
Cuaca kering di bulan kesembilan ini juga masih akan setia menemani warga Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, serta sebagian kecil wilayah Papua.
Kemarau 2026: Lebih Garing dari Biasanya
Catatan penting yang dikeluarkan oleh BMKG adalah sifat kemarau tahun ini yang diprediksi akan jauh lebih kering jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Mayoritas wilayah Indonesia, atau sekitar 64,5% wilayah (setara 451 ZOM), dikategorikan akan mengalami sifat musim kemarau di bawah normal alias super kering.
Sementara itu, wilayah yang diprediksi mengalami kemarau dengan sifat normal hanya mencakup 245 ZOM atau 35,1% wilayah. Kabar buruk bagi pencinta hujan, peluang munculnya kemarau basah atau di atas normal sangatlah tipis, yakni hanya menyisakan 3 ZOM atau setara 0,4% wilayah saja di seluruh Indonesia. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan semua pihak, mulai dari manajemen sumber daya air hingga antisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan.
Rangkuman Karakteristik & Peta Puncak Kemarau 2026
Untuk memudahkan mitigasi dan perencanaan harian Anda, berikut adalah rincian infografis berbasis data BMKG:
Tabel 1. Peta Garis Waktu Puncak Kemarau Indonesia 2026
| Bulan Puncak | Persentase Wilayah (ZOM) | Wilayah yang Terdampak Dominan |
| Juli 2026 | 12,6% Wilayah | Beberapa wilayah zona musim lokal tertentu. |
| Agustus 2026 | 61,4% Wilayah (429 ZOM) | Sumatera tengah & selatan, Jawa Tengah sampai Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan & Sulawesi, seluruh Bali & Nusa Tenggara, sebagian Maluku & Papua. |
| September 2026 | 14,3% Wilayah | Sebagian Lampung, kantong kecil di Pulau Jawa, sebagian besar NTT, Sulawesi utara & timur, mayoritas Maluku Utara, sebagian kecil Papua. |
Tabel 2. Karakteristik Sifat Hujan Musim Kemarau 2026
| Sifat Kemarau | Cakupan Wilayah / ZOM | Dampak Secara Makro |
| Di Bawah Normal (Lebih Kering) | 64,5% Wilayah (451 ZOM) | Suhu udara cenderung lebih terik, risiko kekeringan dan krisis air bersih meningkat. |
| Normal | 35,1% Wilayah (245 ZOM) | Pasokan air dan cuaca berwujud seperti kemarau tahunan biasa. |
| Di Atas Normal (Lebih Basah) | 0,4% Wilayah (3 ZOM) | Masih ada potensi curah hujan intensitas sedang di tengah musim kemarau. |
Editor : Alysa
Sumber : detik.com














