NARASITODAY.COM, FLORES TIMUR – Pagi yang tenang di kaki Gunung Lewotobi Laki-laki mendadak berubah abu-abu. Secara mengejutkan, gunung api aktif yang terletak di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut kembali menggeliat dan memuntahkan kolosal abu vulkanik tebal pada Selasa (2/6/2026) pagi, memaksa masyarakat sekitar untuk kembali bersiap menghadapi ancaman sekunder dari perut bumi.
Ketua Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Lewotobi Laki-laki, Herman Yosef Mboro, mengonfirmasi bahwa erupsi tersebut terjadi tepat pada pukul 07.47 WITA. Semburan material vulkanik tersebut membubung tinggi ke angkasa, menciptakan pemandangan yang mencekam bagi warga di lereng gunung.
“Telah terjadi erupsi G. Lewotobi Laki-laki, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 02 Juni 2026 pukul 07:47 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.000 m di atas puncak (± 2.584 m di atas permukaan laut),” kata Herman melalui keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (2/6/2026).
Herman memaparkan bahwa saat letusan terjadi, kolom abu raksasa tersebut teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal. Angin yang bertiup di sekitar lokasi membawa abu vulkanik tersebut condong bergerak ke arah barat daya dan barat.
Durasi Dentuman dan Status Siaga Level III
Berdasarkan rekaman instrumental dari alat deteksi kegempaan, aktivitas vulkanik ini memberikan getaran yang cukup signifikan pada kerak bumi di sekitar area Flores Timur. Erupsi tersebut tercatat dengan amplitudo maksimum mencapai 11 milimeter.
“Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 11 mm dan durasi ± 2 menit 28 detik,” jelas Herman, yang melaporkan langsung dari pos pemantauan di Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang.
Hingga saat ini, gunung api yang memiliki ketinggian 1.584 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan secara administratif berada di Desa Nurabelen, Kecamatan Ilebura tersebut, masih dikunci pada Status Siaga atau Level III.
Mengingat tingkat bahaya yang masih tinggi, pihak PPGA telah mengeluarkan rekomendasi ketat agar tidak ada satu pun warga atau wisatawan yang melakukan aktivitas dalam radius sektoral lima kilometer dari pusat kawah utama.
Ancaman Banjir Lahar Hujan di Pemukiman
Selain ancaman awan panas dan hujan abu, pemerintah daerah dan tim pengamat mengkhawatirkan datangnya potensi bencana susulan berupa banjir lahar dingin jika wilayah puncak diguyur hujan lebat. Aliran material lumpur dan batu berpotensi menerjang sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung.
“Masyarakat di sekitar G. Lewotobi Laki-laki mewaspadai potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di puncak G. Lewotobi Laki-laki jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi terutama daerah Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng jaya, Boru, Nawakote,” ujar Herman memperingatkan.
Herman juga mengimbau warga yang mulai terpapar dampak sebaran abu halus untuk segera mengamankan diri di dalam rumah serta menjaga kesehatan fisik agar tidak memicu penyakit kronis.
“Masyarakat yang terdampak hujan abu agar tetap menggunakan atau memakai masker dan penutup hidung dan mulut untuk menghindari bahaya abu vulkanik yang bisa berakibat terjadinya gangguan pada sistem pernapasan,” tambahnya.
Bagi masyarakat Flores Timur, gemuruh dari perut Gunung Lewotobi Laki-laki adalah pengingat abadi bahwa mereka hidup berdampingan dengan sang raksasa yang sewaktu-waktu bisa terbangun. Di tengah ketidakpastian ini, helai-helai masker kembali dipakai dan pandangan mata warga kini lebih sering tertuju ke arah puncak yang berselimut kelabu.
Menjaga kewaspadaan dan mematuhi batas radius aman adalah satu-satunya tameng yang mereka miliki saat ini, sembari berharap alam segera kembali tenang dan mengembalikan kedamaian di tanah Flobamora.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













