Perseteruan Internal Lembaga Intelijen AS Ancaman Baru bagi Keamanan Nasional

0
intelijen
Ilustrasi bendera amerika. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, WASHINGTONDinding-dinding kokoh pusat intelijen Amerika Serikat, sebuah badai internal sedang berkecamuk. Perseteruan sengit antara dua pilar spionase terbesar AS Badan Intelijen Pusat (CIA) dan Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) kini mulai menggerogoti akurasi pengawasan konflik Iran.

Ketegangan yang telah membara selama lebih dari satu tahun ini tidak lagi sekadar riak birokrasi, melainkan hambatan nyata. CIA dilaporkan mulai menarik diri dan menghentikan kontribusinya dalam penyusunan sejumlah laporan intelijen penting yang dikoordinasikan oleh ODNI. Akibatnya, fondasi analisis keamanan nasional yang saban hari disuguhkan kepada Presiden Donald Trump kini berada dalam bayang-bayang keraguan.

Ancaman ego sektoral ini memicu alarm bahaya dari para mantan petinggi yang paham betul bagaimana fatalnya jika lembaga-lembaga ini berjalan sendiri-sendiri tanpa orkestrasi yang padu.

ODNI seharusnya menjadi minyak dalam sistem yang menjaga aliran arteri komunitas intelijen dan menghilangkan hambatan. Ketika itu tidak terjadi, lembaga-lembaga bisa kembali bekerja sendiri-sendiri dan meningkatkan risiko kegagalan intelijen,” kata Beth Sanner, mantan Wakil Direktur Intelijen Nasional pada masa pemerintahan Trump, seperti dikutip Reuters, Rabu (3/6/2026).

Baca Juga :  Guru di Sabu Raijua Diduga Pertontonkan Video Porno ke Siswa, DPR Soroti Dampak Psikologis Korban

Iran Jadi Korban Pecah Kongsi

Berdasarkan laporan sejumlah sumber, isu krusial mengenai Iran menjadi sektor yang paling babak belur akibat boikot terselubung ini. CIA memilih untuk membatasi pasokan datanya kepada National Intelligence Council (NIC) badan analisis utama di bawah naungan ODNI yang biasanya menjadi rujukan mutlak Gedung Putih saat menyusun strategi perang atau meredam konflik global.

Retaknya komunikasi ini terjadi di waktu yang salah. Washington saat ini tengah dikepung oleh jajaran tantangan keamanan mahabesar: ketegangan geopolitik dengan Iran, perang berkepanjangan Rusia-Ukraina, hingga manuver militer China yang kian agresif. Di atas kertas, kolaborasi tanpa celah adalah harga mati untuk membaca arah ancaman secara utuh.

Gugus Tugas yang Memantik Api

Menurut sumber internal, benih-benih perpecahan ini mulai bertunas sejak April 2025, ketika Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard membentuk sebuah unit khusus bernama Director’s Initiatives Group. Gugus tugas ini mengemban misi sensitif: menyelidiki dugaan politisasi di tubuh intelijen, mengorek asal-usul Covid-19, memeriksa keamanan mesin pemilu, hingga membuka dokumen rahasia pembunuhan John F. Kennedy.

Baca Juga :  Menyikapi Lima Situasi Tidak Menguntungkan dengan Pendekatan Rasional untuk Menjaga Kesehatan Mental

Namun, langkah Gabbard ini ditentang keras oleh kubu CIA di bawah komando Direktur John Ratcliffe. CIA menilai tim bentukan ODNI tersebut kerap menerobos prosedur standar pembagian informasi rahasia dan deklasifikasi dokumen. Sebaliknya, kubu ODNI menuduh balik bahwa CIA sengaja mempersulit dan memblokir akses data yang dibutuhkan oleh gugus tugas mereka.

Meski menarik diri dari meja bundar ODNI, CIA nyatanya tidak sepenuhnya “bisu”. Mereka masih memiliki kartu as berupa jalur eksklusif langsung ke meja kerja presiden melalui Presidential Daily Brief laporan super rahasia yang disodorkan kepada Presiden Trump setiap pagi.

Bantahan dan Pembelaan Diri

Di tengah sorotan tajam, pihak ODNI segera memasang badan dan menepis kekhawatiran bahwa pasokan informasi ke Gedung Putih tengah tersumbat.

ODNI dan lembaga-lembaga yang diawasinya berkomunikasi dan berkolaborasi setiap hari dengan rekan-rekan CIA di seluruh spektrum produk dan operasi intelijen,” ujar Juru Bicara ODNI, Olivia Coleman, yang menegaskan bahwa Trump tetap menerima analisis terbaik.

Senada dengan itu, kubu CIA juga menegaskan bahwa fokus utama mereka tidak bergeser dari upaya menjaga kedaulatan negara, terlepas dari friksi yang terjadi di ibu kota.

Baca Juga :  Kedua Tim Madrid Gagal Menang, Barcelona Mengintai Puncak Klasemen

“Di bawah Direktur Ratcliffe, CIA dengan cepat mengambil risiko yang terukur untuk mengalahkan musuh-musuh Amerika dan memberikan keunggulan strategis bagi Amerika Serikat,” kata Direktur Urusan Publik CIA, Liz Lyons.

Dendam Lama dan Taruhan Masa Depan

Hubungan kedua lembaga ini memang sudah telanjur berdarah-darah sejak pertengahan tahun lalu. Pada Mei 2025, Gabbard secara kontroversial mencopot dua pejabat senior CIA yang memimpin NIC atas tuduhan politisasi intelijen tanpa bukti yang dibuka ke publik.

Ketegangan memuncak pada Agustus 2025 saat Gabbard mencabut izin keamanan 37 pejabat intelijen, sebuah langkah ceroboh yang secara tidak sengaja membongkar identitas asli seorang agen rahasia CIA yang sedang menyamar di luar negeri.

Kini, sengkarut dua raksasa intelijen ini telah menggelinding menjadi objek penyelidikan resmi oleh kantor inspektur jenderal komunitas intelijen AS. Namun, selama ego kelembagaan ini belum padam, risiko salah kalkulasi dalam menghadapi konflik sensitif seperti Iran akan tetap menjadi hantu yang mengintai keselamatan navigasi politik luar negeri Amerika Serikat.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com