Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pelaku Usaha Diminta Tetap Optimistis Hadapi Tekanan Ekonomi

0
per dolar AS
Ilustrasi uang dolar yang berada dimesin uang.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS, mengakibatkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri dan dunia usaha. Fenomena ini menjadi perhatian utama dalam situasi ekonomi global yang tengah mengalami tekanan, namun sejumlah pengusaha menegaskan bahwa langkah strategis dan optimisme harus tetap dijaga.

Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah kondisi pasar keuangan internasional yang sedang fluktuatif. Data terbaru menunjukkan bahwa hingga pukul 10.00 WIB, dolar AS telah menyentuh level Rp18.150. Setelah perdagangan dibuka pukul 09.07 WIB, rupiah sempat melemah ke posisi Rp18.100/US$, dengan depresiasi sekitar 0,50%. Kondisi ini memperlihatkan betapa dinamisnya pergerakan mata uang di tengah tekanan global.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Akhmad Ma’ruf Maulana, menanggapi fenomena ini dengan optimisme. Ia menyatakan bahwa fluktuasi nilai tukar dan koreksi pasar saham merupakan bagian dari dinamika normal dalam perekonomian yang menghadapi ketidakpastian global.

Baca Juga :  Bupati Bogor dan Menteri PKP Perkuat Komitmen Hadirkan Kredit Perumahan bagi Warga

“Ini hanya sesaat saja, dan yang penting adalah bagaimana kita tetap fokus pada stabilitas ekonomi riil,” ujar Ma’ruf kepada CNBC Indonesia, Senin (8/6/2026). Ia menambahkan, “Pengalaman Indonesia menghadapi krisis keuangan Asia, krisis global 2008, pandemi Covid-19, hingga gejolak geopolitik dunia, menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi nasional tidak hanya diukur dari pergerakan harian kurs atau indeks saham.”

Ma’ruf menegaskan, yang paling penting adalah menjaga aktivitas ekonomi, investasi, produksi, serta penciptaan lapangan kerja. Ia pun menyampaikan bahwa tekanan dari pasar keuangan internasional adalah tantangan yang sedang dihadapi banyak negara berkembang.

Baca Juga :  TP-PKK Kabupaten Bogor Mantapkan Sinergi, Pokja IV Fokus pada Isu Kesehatan dan Lingkungan

“Fokus utama pemerintah seharusnya bukan pada gejolak jangka pendek, melainkan pada reformasi struktural yang berkelanjutan,” katanya. Ia menambahkan, penyederhanaan regulasi, percepatan perizinan, sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, serta penyediaan energi dan infrastruktur menjadi faktor kunci yang dapat menarik minat investor.

Menurut Ma’ruf, investor kini mencari tiga hal utama: kepastian, kecepatan, dan kemudahan. “Ketika ketiga hal tersebut dapat terpenuhi secara konsisten, Indonesia tetap kompetitif meskipun dunia sedang mengalami tekanan ekonomi dan geopolitik,” ujarnya.

Selain itu, Ma’ruf menilai bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat relokasi industri apabila reformasi regulasi dan investasi terus dilakukan secara konsisten. Ia menegaskan, “Sejarah menunjukkan bahwa negara yang mampu bergerak cepat di tengah ketidakpastian justru akan menjadi pemenang saat ekonomi global pulih kembali.”

Baca Juga :  Sup Iga Hangat Berempah ala Restoran Bintang Lima, Resep Lengkap dan Mudah

Di tengah tekanan global, para pelaku usaha tetap yakin bahwa kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, kawasan industri, dan investor sangat penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. “Ini adalah waktu yang tepat untuk memperkuat sinergi dan tidak berputus asa,” tutup Ma’ruf.

Sementara itu, pengamat ekonomi menambahkan bahwa tantangan saat ini perlu dihadapi dengan strategi jangka panjang yang berfokus pada stabilisasi ekonomi riil, bukan hanya fluktuasi pasar jangka pendek. Situasi ini menjadi pengingat bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tetap kokoh selama tetap menjaga komitmen terhadap reformasi dan inovasi.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com