
NARASITODAY.COM,JAKARTA – Perilaku perundungan atau bullying di kalangan anak dan remaja masih menjadi perhatian serius bagi orang tua, guru, dan masyarakat. Tidak sedikit yang menganggap tindakan mengejek, mengintimidasi, atau mengucilkan teman sebagai kenakalan biasa. Padahal, perilaku tersebut bisa menjadi tanda adanya masalah yang lebih dalam pada kondisi emosional maupun lingkungan anak.
Para ahli perkembangan anak menekankan bahwa pelaku bullying tidak selalu berasal dari latar belakang yang sama. Namun, terdapat sejumlah gejala yang perlu diwaspadai karena dapat menjadi indikator bahwa anak sedang mengalami kesulitan yang membutuhkan perhatian dan pendampingan.
Berikut lima gejala yang sering ditemukan pada anak yang gemar melakukan bullying:
1. Sulit Mengendalikan Emosi
Anak yang mudah marah, sering meledak-ledak, atau menunjukkan agresivitas berlebihan cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk melakukan bullying. Ketidakmampuan mengelola emosi membuat mereka melampiaskan frustrasi kepada teman yang dianggap lebih lemah.
Perilaku ini tidak boleh diabaikan karena dapat berkembang menjadi pola agresi yang semakin serius jika tidak ditangani sejak dini.
2. Kurang Empati terhadap Orang Lain
Empati merupakan kemampuan memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain. Anak yang sering meremehkan perasaan teman, tidak merasa bersalah setelah menyakiti orang lain, atau bahkan menikmati penderitaan korban perlu mendapatkan perhatian khusus.
Kurangnya empati dapat menghambat perkembangan keterampilan sosial dan hubungan interpersonal yang sehat di masa depan.
3. Sering Ingin Mendominasi
Keinginan untuk selalu berkuasa atau mengontrol lingkungan sekitar juga menjadi salah satu ciri umum pelaku bullying. Anak mungkin merasa harus menjadi yang paling kuat, paling ditakuti, atau selalu menang dalam berbagai situasi.
Dorongan untuk mendominasi ini sering kali membuat mereka menggunakan intimidasi sebagai alat untuk mendapatkan pengaruh atau pengakuan dari kelompoknya.
4. Bermasalah dengan Aturan dan Disiplin
Anak yang berulang kali melanggar aturan sekolah, menentang otoritas, atau tidak menghormati batasan yang diberikan orang tua dan guru memiliki kecenderungan lebih besar untuk terlibat dalam perilaku bullying.
Sikap tidak patuh yang terus-menerus dapat menjadi sinyal adanya masalah perilaku yang lebih luas dan memerlukan evaluasi lebih lanjut.
5. Memiliki Lingkungan Pertemanan yang Negatif
Lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak. Jika anak bergaul dengan teman-teman yang sering melakukan kekerasan verbal, mengejek orang lain, atau menganggap bullying sebagai hal yang wajar, risiko mereka meniru perilaku tersebut akan meningkat.
Orang tua perlu mengenal lingkungan pertemanan anak dan membangun komunikasi yang terbuka agar dapat mendeteksi pengaruh negatif sejak awal.
Psikolog anak mengingatkan bahwa pendekatan yang hanya berfokus pada hukuman sering kali tidak menyelesaikan masalah. Di balik perilaku bullying, bisa saja terdapat faktor lain seperti tekanan di rumah, pengalaman menjadi korban bullying, kurangnya perhatian, atau kesulitan mengelola emosi.
Karena itu, penting bagi orang tua dan guru untuk bekerja sama dalam memahami penyebab perilaku anak. Pendampingan yang tepat, pembelajaran tentang empati, serta komunikasi yang sehat dapat membantu anak mengubah perilaku negatif menjadi lebih positif.
Pencegahan bullying dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua disarankan untuk menjadi teladan dalam menghargai orang lain, mengajarkan penyelesaian konflik tanpa kekerasan, dan memberikan ruang bagi anak untuk mengungkapkan perasaannya.
Dengan mengenali gejala-gejala sejak dini, orang tua dapat mengambil langkah yang tepat sebelum perilaku bullying berkembang menjadi masalah yang lebih besar dan berdampak pada masa depan anak maupun orang-orang di sekitarnya.***
Editor : Alysa
Sumber : idntimes.com












