Pemerintah Resmi Luncurkan Bahan Bakar Biodiesel B50 di Tol Jakarta-Cikampek

0
Jakarta-Cikampek
Ilustrasi Tangan memegang pompa nosel bahan bakar.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, CIKAMPEKIndonesia resmi mengukir sejarah baru dalam peta energi hijau global. Bertempat di KM 57 Tol Jakarta-Cikampek pada Kamis (9/7/2026), pemerintah meluncurkan bahan bakar minyak (BBM) jenis biodiesel 50% atau B50. Langkah ini menandai era baru substitusi energi nabati yang menggeser formula B35 dan B40 menuju kebijakan mandatori paling ambisius di tanah air.

Peluncuran ini bukan sekadar urusan teknis mencampur bahan bakar cair berbasis kelapa sawit, melainkan simbol penting bagi ketahanan nasional di tengah ketidakpastian pasokan global.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui, melompat ke kadar minyak sawit 50% merupakan sebuah tantangan yang luar biasa besar karena umumnya peningkatan dilakukan bertahap sebesar 5% hingga 10% dengan masa evaluasi bertahun-tahun.

“Awalnya memang B50 ini jujur kami katakan bahwa ini bukan pekerjaan yang mudah. Karena biasanya tahapannya itu Bapak Presiden naik 5%, maksimal 10%. Itu pun 10% itu dia 3 tahun baru bisa kita melakukan uji coba. Tapi perintah Bapak Presiden waktu itu, Bapak Presiden mengatakan bahwa bagaimana caranya pun B50 harus kita bisa luncurkan di 2026,” ujar Bahlil dikutip dari siaran Sekretariat Presiden.

Baca Juga :  Kemenparekraf Dukung Kolaborasi Crystalin, Tango, Garuda Indonesia, dan Tahilalats Lewat “Exploration of Happiness”

Dari Asia Hingga Eropa, Lolos Uji 6 Bulan

Guna menepis kekhawatiran para pelaku industri transportasi mengenai potensi kerusakan mesin, pemerintah telah melakukan uji coba ketat selama setengah tahun di berbagai sektor.

Pengujian dilakukan secara menyeluruh mulai dari kendaraan otomotif, alat berat pertambangan, mesin pertanian, genset, perkapalan, hingga sektor perkeretaapian yang dikenal memiliki konsumsi solar sangat besar.

“Pak, ini test case-nya enam bulan, jadi kereta api, mobil, mobil Mercedes pun dites Pak, bis. Tidak hanya Toyota, Mercedes pun oke. Jadi ini dari (mobil) Asia sampai Eropa semua kita bikin. Kapal-kapal semuanya kita tes,” lanjut Bahlil.

Baca Juga :  Hampir Seluruh Wilayah Indonesia Diprediksi Diguyur Hujan Hari Ini, BMKG Imbau Warga Waspada

Hasil uji coba tersebut berbuah manis dan membalikkan keraguan publik. Indikator efisiensi kendaraan tercatat membaik, bahkan umur pakai komponen penyaringan bahan bakar dilaporkan jauh lebih awet dibandingkan saat menggunakan formula sebelumnya.

“Dan Alhamdulillah, hasil test-nya ternyata kualitas B50 jauh lebih baik daripada B40. Apa dasarnya kalau B40 itu filternya itu diganti pada ukuran 10.000 sampai dengan 20.000 kilometer (km). Nah untuk B50 Pak, ada yang 40.000 Km belum diganti filternya,” tandas Bahlil.

Mengenal Formula Baru B50

Secara teknis, perbedaan utama B50 dengan program pendahulunya terletak pada besarnya porsi campuran minyak nabati yang diolah menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME).

Jika B35 menggunakan 35% FAME dan B40 menggunakan 40% FAME, maka B50 mencampurkan 50% FAME berbasis minyak sawit dan 50% minyak solar berbasis fosil. Semakin tinggi kandungan FAME, semakin besar pula porsi energi terbarukan di setiap liternya.

Baca Juga :  AFC Rilis Pembagian Pot Drawing Piala Asia 2027, Indonesia Masuk Pot Keempat

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyatakan bahwa hasil pengujian menunjukkan B50 sukses memenuhi parameter teknis yang dipersyaratkan, termasuk standar kandungan air, stabilitas oksidasi, dan kadar FAME.

Meskipun pengujian pada alat berat menunjukkan adanya kenaikan konsumsi bahan bakar sekitar 3,12% dibandingkan B40, pemerintah menilai angka tersebut masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu produktivitas operasional.

Nantinya, penyaluran BBM B50 tidak hanya dimonopoli oleh Pertamina, melainkan bakal didistribusikan oleh seluruh badan usaha penyedia BBM sesuai regulasi yang berlaku. Lewat implementasi B50, Indonesia tidak hanya menargetkan pengurangan drastis hingga penghentian impor solar, tetapi juga memantapkan posisi sebagai pemimpin pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) berbasis domestik.***

Editor : Alysa

Sumber : kontan.co.id