NARASITODAY.COM – Trauma masa kecil dapat memiliki dampak jangka panjang yang signifikan terhadap kehidupan seseorang, termasuk dalam bentuk kebiasaan yang membatasi potensi di usia dewasa.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh sejumlah psikolog, terdapat 5 kebiasaan umum yang sering muncul sebagai akibat dari pengalaman traumatis di masa kanak-kanak, yang dapat menghambat perkembangan pribadi dan profesional individu.
Kebiasaan-kebiasaan ini tidak hanya mempengaruhi kesehatan mental, tetapi juga dapat berdampak pada hubungan sosial dan karier seseorang.
1. Neurotisme
Neurotisme adalah salah satu sifat kepribadian yang menunjukkan kecenderungan seseorang untuk mengalami emosi negatif, seperti ketakutan, kesedihan, kecemasan, dan mudah tersinggung.
Banyak orang dewasa yang mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi mereka akibat trauma masa kecil, sehingga mereka cenderung mengalami kecemasan, depresi, dan kemarahan yang berlebihan.
Hal ini dapat menyebabkan mereka merasa tidak nyaman dalam situasi sosial dan sulit untuk membangun hubungan yang sehat.
2. Mudah Marah dan Agresif
Kebiasaan ini sering kali berkembang dari pengalaman masa kecil yang penuh tekanan, di mana individu belajar bahwa kemarahan adalah cara untuk melindungi diri dari bahaya. Sikap agresif ini bisa membuat orang lain menjauh, menciptakan isolasi sosial yang lebih dalam.
3. Sulit Berbaur dengan Lingkungan Sekitar
Trauma dapat menyebabkan seseorang merasa terasing dan kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain. Akibatnya, mereka lebih memilih untuk menyendiri dan menghindari hubungan sosial, yang pada gilirannya dapat memperburuk perasaan kesepian dan ketidakpuasan hidup.
4. Bersifat Sombong
Beberapa individu mungkin mengembangkan sifat sombong sebagai mekanisme pertahanan untuk menutupi rasa sakit dan kekurangan yang dialami di masa lalu. Mereka mungkin merasa perlu untuk menunjukkan kekuatan atau superioritas sebagai cara untuk melindungi diri dari penilaian orang lain.
5. Individualistis
Trauma masa kecil sering kali membuat seseorang merasa bahwa mereka harus berjuang sendiri, sehingga mereka cenderung menghindari kolaborasi dan dukungan dari orang lain. Sikap ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk bekerja dalam tim dan meraih tujuan bersama.
Menggali trauma masa kecil memang bukan hal yang mudah proses ini seringkali melibatkan rasa sakit dan ketidaknyamanan saat menghadapi kenangan lama.
Namun, dengan dukungan yang tepat baik dari terapis maupun lingkungan sosial setiap orang memiliki kemampuan untuk sembuh dan mencapai potensi penuh mereka.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel














