
NARASITODAY.COM – Laju deforestasi di Indonesia menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, dengan 1,9 juta hektare hutan telah rusak dalam dua tahun terakhir, mencerminkan peningkatan signifikan dalam kerusakan lingkungan.
Data terbaru dari Forest Watch Indonesia (FWI) mengungkapkan bahwa konversi hutan menjadi lahan pertanian, terutama untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan, menjadi penyebab utama deforestasi yang terus meningkat.
Dalam periode 2017 hingga 2021, laju deforestasi tercatat mencapai 2,54 juta hektare per tahun, dengan Kalimantan menjadi wilayah terparah yang mengalami kerusakan.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Siti Nurbaya mengakui tantangan besar yang dihadapi dalam upaya menghentikan deforestasi. “Kami terus berupaya menekan angka deforestasi melalui berbagai program rehabilitasi dan moratorium pembukaan lahan baru,” ujarnya dalam konferensi pers.
Namun, banyak pihak menganggap langkah tersebut belum cukup efektif untuk mengatasi masalah yang semakin mendesak ini.
Dalam wawancara terpisah, Direktur Eksekutif FWI, Mufti Fathul Barri, menekankan bahwa kondisi hutan di Indonesia semakin kritis. “Jika tidak ada tindakan tegas dan berkelanjutan, kita akan menghadapi krisis lingkungan yang lebih parah di masa depan,” katanya.
Masyarakat sipil pun mulai merasakan dampak dari deforestasi yang terus meningkat ini. Banyak warga di daerah rawan bencana melaporkan peningkatan frekuensi banjir dan tanah longsor akibat hilangnya tutupan hutan yang berfungsi sebagai penyangga lingkungan.
“Kami berharap pemerintah dapat mengambil langkah lebih serius untuk melindungi hutan kami,” ungkap seorang warga dari Kalimantan.
Upaya konservasi dan rehabilitasi hutan harus menjadi prioritas utama untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan memastikan keberlanjutan lingkungan hidup di Indonesia.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel













