Pasukan Keamanan Suriah Menangkap Mantan Kepala Intelijen Angkatan Udara, Perang Saudara Semakin Memanas

0
Perang Saudara Suriah Terus Berlanjut, Serangan Terbesar Terjadi Setelah Penggulingan Assad

NARASITODAY.COM – Meski pemerintahan Bashar al-Assad telah digulingkan pada Desember 2024, konflik bersenjata di Suriah masih terus berlangsung, dengan serangan terbesar yang dilaporkan terjadi di provinsi Latakia, yang terletak di pesisir Mediterania.

Wilayah ini dikenal sebagai pusat komunitas Alawite, yang merupakan aliran Syiah yang dianut oleh keluarga Assad. Serangan tersebut disebut sebagai yang “paling keras” sejak penggulingan presiden yang berkuasa selama 20 tahun itu.

“Selama operasi itu, pasukan keamanan menangkap dan menahan seorang mantan kepala intelijen angkatan udara, salah satu badan keamanan paling tepercaya keluarga Assad,” ungkap kantor berita negara, SANA, yang mengacu pada pemerintahan baru Suriah di bawah pimpinan Ahmed al-Sharaa.

Baca Juga :  Bupati Bogor Raih Penghargaan Kepala Daerah Paling Peduli Insan Pers

“Pasukan kami di kota Jableh berhasil menangkap penjahat Jenderal Ibrahim Huweija yang dituduh melakukan ratusan pembunuhan selama era penjahat Hafez al-Assad (ayah dan pendahulu Bashar al-Assad),” tambah laporan tersebut.

Bentrokan yang terjadi di kota pesisir Jableh dan desa-desa sekitarnya disebut oleh Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia sebagai yang paling intens sejak pemerintahan baru terbentuk.

Sebagian besar korban tewas berasal dari bekas benteng pemberontak di Idlib, wilayah barat laut Suriah yang kerap menjadi pusat perlawanan terhadap rezim Assad. “Setidaknya tiga orang bersenjata di Jableh tewas,” kata Observatorium yang berbasis di Inggris itu.

Baca Juga :  Proyek Pemasangan Pipa Air Bersih di Jalan Raya Bogor Picu Kemacetan Parah

Menurut direktur keamanan provinsi tersebut, pasukan keamanan bentrok dengan orang-orang bersenjata yang setia pada Assad menggunakan serangan helikopter, berusaha untuk menembus hutan-hutan Suriah tempat kelompok tersebut bersembunyi.

“Pasukan keamanan memberlakukan jam malam di daerah tersebut, termasuk kota pelabuhan Tartus dan kota ketiga, Homs,” ungkapnya.

Di sisi lain, pemimpin kelompok Alawi menyerukan “unjuk rasa damai” sebagai respons terhadap serangan dari pemerintah baru. Mereka menuduh pasukan rezim menargetkan rumah-rumah warga sipil dalam serangan tersebut.

Kondisi ekonomi Suriah sendiri telah hancur akibat perang saudara yang berlangsung selama 14 tahun. Berdasarkan laporan Bank Dunia, ekonomi Suriah menyusut hingga 85% pada tahun 2023, dari nilai US$ 67,5 miliar pada 2011 menjadi hanya US$ 9 miliar.

Baca Juga :  Final NBA 2024-2025 Berlanjut ke Gim Ketujuh, Semua Mata Tertuju ke Paycom Center

Angka ini menempatkan Suriah di peringkat negara-negara dengan ekonomi terburuk di Timur Tengah, sejajar dengan negara-negara seperti Chad dan Palestina.

Pemerintahan Assad yang telah digulingkan dikenal dengan pelanggaran hak asasi manusia yang luas, konflik internal yang berkepanjangan, dan penindasan terhadap oposisi politik. Meski pemerintahannya jatuh, dampak dari konflik ini masih dirasakan luas, meninggalkan negara ini dalam kondisi yang sangat rentan dan hancur.***