Polisi Bogor Ungkap Detik-Detik Mengerikan Keponakan Habisi Nyawa Tante di Dapur Rumah

0
Polisi Bogor Ungkap Detik-Detik Mengerikan Keponakan Habisi Nyawa Tante di Dapur Rumah

NARASITODAY.COM – Mentari mulai merayap turun, menyisakan kehangatan senja di sebuah perumahan tenang di Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Namun, kehangatan itu seketika sirna, berganti kengerian di balik dinding sebuah rumah.

Di sanalah, di jantung rumah, tepatnya di dapur yang seharusnya menjadi saksi bisu kebersamaan, nyawa seorang wanita paruh baya meregang di tangan keponakannya sendiri, RFR alias E.

Kompol Aji Riznaldi, Kasatreskrim Polresta Bogor Kota, merangkai detik-detik mencekam yang berujung pada tragedi itu. Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB ketika suara lembut seorang tante memanggil keponakannya dari lantai dua. Tugas sederhana menanti: mencuci piring di dapur lantai satu. Namun, di antara denting piring dan aroma masakan yang mungkin masih tersisa, benih pertengkaran mulai tumbuh.

E, sang keponakan yang masih menyandang status mahasiswa, rupanya menyimpan keinginan untuk menghabiskan sore bersama teman-temannya. Permintaan izin itu ditolak mentah-mentah oleh tantenya.

Penolakan itu rupanya menyulut api kecil yang dengan cepat membesar. Percikan air yang mengenai wajah E dari tantenya menjadi pemicu awal. Spontan, E membalas dengan melempar spon.

Baca Juga :  Kesurupan Hingga Bahan Makanan ‘Hilang’, Produksi MBG Bantarkaret Terganggu

Namun, di balik lemparan spon itu, tersimpan bara kekesalan yang telah lama membara. Kompol Aji mengungkapkan, “Jadi kejadiannya jam 16.00 WIB. E memukul korban secara brutal karena kesal di bagian muka sampai meninggal.” Kata-kata itu bagai petir di siang bolong, menggambarkan luapan emosi seorang pemuda yang merasa terkekang. Tangan kosong itu menjadi senjata mematikan, menghantam wajah wanita yang seharusnya menjadi pelindungnya.

Setelah kegelapan menyelimuti dapur dan kesadaran akan perbuatan mengerikan itu menghantamnya, E mengambil langkah yang membingungkan. Alih-alih melarikan diri, ia justru mencari pertolongan.

“Setelah mendapati tantenya bersimbah darah di lantai dengan luka di bagian muka kanan maupun kiri dan hilang nyawa, E pun melaporkan kejadian itu kepada satpam perumahan, teman-temannya melalui pesan WhatsApp serta memanggil ambulans,” terang Aji.

Laporan dari seorang pelaku pembunuhan tentu saja menimbulkan kebingungan dan kengerian. Satpam perumahan yang menerima informasi itu segera meneruskan kabar duka ini kepada pihak RT/RW. Dari merekalah, aparat kepolisian akhirnya menerima laporan resmi mengenai tragedi di rumah bernomor sekian itu.

Baca Juga :  Data Terbaru Ungkap Wilayah dengan Kasus Kumpul Kebo Terbanyak di Indonesia

“Jadi kami mendapat laporannya dari RT/RW di perumahan, karena yang tersangka memberitahu satpam perumahan situ. Dia mengakui memukul tantenya hingga meninggal,” jelas Aji. Pengakuan itu menjadi awal dari terungkapnya sebuah kisah pilu di balik dinding sebuah rumah.

Tak lama berselang, petugas kepolisian tiba di lokasi kejadian. Mereka mendapati E masih berada di sana, tubuhnya belum sepenuhnya bersih dari noda darah. Pemandangan di dalam rumah pun tak kalah mengerikan. Bercak darah tercecer di dapur, bahkan hingga anak tangga, menjadi saksi bisu betapa brutalnya serangan itu.

Penangkapan E pun berjalan tanpa perlawanan. “Tanpa perlawanan. Bahkan dia sempat bilang, dia akan dibawa polisi kepada saksi-saksi,” ungkap Aji. Sebuah kepasrahan yang dingin, mungkin mencerminkan penyesalan yang terlambat datang.

Motif di balik tindakan keji itu perlahan mulai terkuak. Berdasarkan keterangan sementara yang diberikan E kepada penyidik, kekesalan mendalam menjadi pemicunya. “Kesal sering dilarang main, itu keterangannya. Sudah dirawat sejak kecil oleh tantenya,” kata Aji. Sebuah pengakuan yang ironis.

Tante yang dengan penuh kasih sayang mengasuhnya sejak kecil, justru menjadi korban kemarahan yang tak terkendali. Status E sebagai mahasiswa menambah ironi tragedi ini. Masa depan yang seharusnya terbentang luas, kini terancam suram akibat perbuatan sesaat.

Baca Juga :  Tindak Lanjut Aduan Masyarakat, Pemkab Bogor Tindak Tegas Dugaan Pencemaran Limbah B3 di Citeureup

Pihak kepolisian tidak ingin terburu-buru menarik kesimpulan. Mereka menyadari bahwa ada kemungkinan faktor psikologis yang lebih dalam yang melatarbelakangi tindakan brutal E.

“Nanti kita konsultasikan ke psikolog apakah ada kekesalan mendalam atau seperti apa,” ujar Aji. Konsultasi dengan psikolog diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi kejiwaan E dan akar dari kemarahan yang berujung maut itu.

Tragedi di dapur senja itu meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Pertanyaan besar menggantung di udara: bagaimana sebuah larangan bermain bisa berujung pada hilangnya nyawa seorang wanita yang telah berbakti mengasuh keponakannya? Kisah ini menjadi pengingat betapa rapuhnya emosi manusia dan betapa pentingnya komunikasi serta pengendalian diri dalam setiap interaksi.

Sementara hukum akan terus berjalan, luka di hati keluarga yang ditinggalkan mungkin tak akan pernah sepenuhnya mengering.