Serangan Terbaru di Hodeidah Tambah Derita Warga Yaman, Dunia Internasional Bungkam

0
Ilustrasi Serangan Terbaru di Hodeidah Tambah Derita Warga Yaman, Dunia Internasional Bungkam

NARASITODAY.COM – Kota pelabuhan Hodeidah di Yaman kembali menjadi sasaran serangan udara yang mematikan, merenggut nyawa sedikitnya delapan orang. Kelompok Houthi, yang menguasai wilayah tersebut, dengan tegas menuding Amerika Serikat (AS) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan yang menghantam jantung kota strategis di tepi Laut Merah itu.

Gelombang serangan udara yang terjadi pada Selasa (8/4/2025) waktu setempat ini, seperti yang dilansir oleh AFP pada Rabu (9/4/2025), menambah daftar panjang korban sipil akibat konflik yang berkepanjangan di Yaman.

Hodeidah, sebagai salah satu pelabuhan utama di Laut Merah, memiliki nilai strategis yang tinggi dan berada di bawah kendali kelompok Houthi yang didukung oleh Iran.

Kabar duka ini pertama kali disampaikan oleh Al-Masirah TV, saluran televisi yang dikelola oleh Houthi. Mengutip pernyataan dari Kementerian Kesehatan Houthi, stasiun televisi tersebut melaporkan, “Jumlah korban tewas akibat agresi Amerika di Hodeidah meningkat menjadi delapan martir dan 16 korban luka, dengan operasi pembersihan puing-puing masih berlangsung.” Laporan ini mengindikasikan bahwa jumlah korban kemungkinan masih bisa bertambah seiring dengan upaya penyelamatan dan identifikasi yang terus dilakukan di lokasi kejadian.

Baca Juga :  Bocah WNI 6 Tahun Meninggal Ditabrak Mobil di Singapura, Ibu Luka Ringan

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Kesehatan Houthi, Anis al-Asbahi, telah memberikan informasi awal mengenai jatuhnya korban. Ia melaporkan bahwa serangan udara tersebut telah merenggut nyawa empat anak-anak dan dua wanita, menambah pilu bagi warga Hodeidah yang telah lama hidup dalam bayang-bayang konflik.

Media yang berafiliasi dengan Houthi juga melaporkan bahwa serangan udara tersebut secara langsung menyasar area permukiman padat penduduk di Hodeidah. Pada Selasa (8/4/2025) malam, seorang wartawan AFP yang berada di lokasi kejadian mengkonfirmasi adanya serangkaian ledakan yang mengguncang kota.

“Seorang wartawan AFP yang ada di area tersebut melaporkan dirinya mendengar tiga suara ledakan secara beruntun,” tulis laporan tersebut, menggambarkan betapa dekatnya dampak serangan dengan kehidupan warga sipil.

Serangan udara yang menghantam Hodeidah ini bukanlah insiden yang terisolasi. Wilayah-wilayah Yaman yang berada di bawah kendali Houthi telah menjadi sasaran serangan hampir setiap hari sejak AS melancarkan operasi militer terhadap kelompok pemberontak tersebut pada 15 Maret lalu.

Baca Juga :  Angelina Jolie Saksikan Tumpukan Bantuan yang Terhenti di Tengah Krisis Gaza

Langkah ini diambil oleh AS dengan tujuan untuk memaksa Houthi menghentikan ancaman mereka terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur maritim utama Laut Merah.

Namun, respons Houthi terhadap operasi militer AS justru menunjukkan eskalasi konflik. Sejak saat itu, kelompok pemberontak ini juga mulai melancarkan serangan-serangan yang menargetkan kapal-kapal militer AS dan Israel. Mereka mengklaim bahwa serangan-serangan tersebut merupakan wujud solidaritas terhadap warga Palestina yang tengah berjuang di Jalur Gaza.

Konflik di Laut Merah sendiri bermula setelah perang berkecamuk di Jalur Gaza pada Oktober 2023. Pemberontak Houthi mulai aktif menargetkan kapal-kapal yang melintasi jalur perairan strategis tersebut, termasuk Teluk Aden, serta wilayah Israel. Sempat terjadi jeda serangan selama gencatan senjata di Jalur Gaza pada pertengahan Januari lalu.

Baca Juga :  Militer Israel Siap Tanggapi Keras, Ancaman Eskalasi Konflik di Perbatasan

Namun, harapan akan perdamaian kembali pupus ketika Israel menghentikan seluruh pasokan kemanusiaan ke Jalur Gaza pada awal Maret dan kembali melancarkan serangan terhadap wilayah kantong Palestina tersebut. Merespons situasi ini, Houthi kembali melontarkan ancaman untuk melanjutkan serangan mereka di Laut Merah dan sekitarnya.

Ancaman inilah yang kemudian mendorong AS untuk mengambil tindakan militer langsung terhadap kelompok pemberontak Houthi di wilayah Yaman. Akibat serangan-serangan Houthi, rute penting Laut Merah, yang vital bagi perdagangan global dan biasanya dilalui oleh sekitar 12 persen lalu lintas pelayaran dunia, mengalami kelumpuhan.

Banyak perusahaan pelayaran terpaksa mengambil rute yang jauh lebih panjang dan mahal di sekitar ujung Afrika Selatan untuk menghindari risiko serangan, yang semakin memperburuk situasi ekonomi global. Tragedi di Hodeidah menjadi babak kelam terbaru dalam konflik yang terus memakan korban jiwa dan mengancam stabilitas kawasan.***