Oleh: Siti Fatimah, Ketua Korps HMI Wati MPO Cabang Bogor
NARASITODAY.COM- Ketika kita bicara tentang pembangunan bangsa, sayangnya peran perempuan masih kerap dipinggirkan. Padahal, sejarah dan ajaran Islam sendiri tak pernah meminggirkan perempuan dari arena sosial, politik, dan intelektual. Justru, banyak tokoh perempuan Islam dunia yang menyerukan pentingnya peran perempuan sebagai pilar bernegara—bukan hanya dalam konteks keluarga, tetapi dalam kebijakan, ekonomi, dan kepemimpinan publik.
Sebut saja Fatima Mernissi, sosiolog asal Maroko. Ia menggugat cara pandang patriarkal yang membatasi perempuan atas nama agama. Baginya, Islam sejatinya mendorong perempuan untuk cerdas, merdeka, dan aktif dalam ruang publik. Relevan dengan Indonesia, di mana masih banyak perempuan belum memiliki akses setara terhadap pendidikan dan politik. Solusinya? Mulai dari pendidikan kritis gender sejak dini dan membuka ruang partisipasi seluas-luasnya.

Lalu ada Amina Wadud, tokoh yang menafsirkan Al-Qur’an dari perspektif perempuan. Ia menekankan bahwa perempuan memiliki kesetaraan spiritual dan tanggung jawab sosial yang sama dengan laki-laki. Di Indonesia, wacana ini bisa menjadi dasar teologis bagi mereka yang memperjuangkan kepemimpinan perempuan, termasuk dalam posisi publik yang kerap ditentang atas dasar tafsir konservatif.
Sementara itu, Zainah Anwar dari Malaysia menggarisbawahi pentingnya kebijakan publik yang adil gender. Ia mengingatkan, perempuan harus duduk di meja pengambilan keputusan, khususnya dalam isu-isu hukum keluarga dan perlindungan terhadap kekerasan. Indonesia sebenarnya sedang menuju ke arah itu, dengan hadirnya UU TPKS dan dorongan terhadap RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga. Namun tentu, prosesnya masih panjang dan butuh lebih banyak suara perempuan di parlemen dan lembaga hukum.
Nyatanya, perempuan Indonesia sudah lama menjadi pilar bangsa, walau sering kali tidak diberi pengakuan. Mereka pemimpin rumah tangga, pelaku utama UMKM, guru di madrasah dan pesantren, serta aktivis di komunitas akar rumput. Mereka bukan sekadar pelengkap, tapi fondasi kehidupan berbangsa.
Islam tidak melarang perempuan tampil. Justru sebaliknya, mendorong perempuan menjadi agen perubahan. Maka, tugas kita bersama adalah memastikan ruang-ruang partisipasi itu terbuka, mendukung mereka untuk berdiri tegak sebagai pilar bangsa, bukan hanya dalam simbol, tapi dalam praktik nyata.***














