NARASITODAY.COM – Di balik gemuruh pertumbuhan wilayah penyangga ibu kota, Kabupaten Bogor perlahan-lahan menorehkan harapan baru. Angka kemiskinan ekstrem yang selama ini menjadi beban sosial perlahan menunjukkan tren penurunan.
Sebuah langkah kecil, namun penuh makna, bagi ribuan kepala keluarga yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
Farid Maruf, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bogor, menyampaikan kabar ini dengan penuh kehati-hatian. Menurutnya, berdasarkan data terkini, jumlah keluarga yang dikategorikan sebagai miskin ekstrem dan terdaftar dalam Program Keluarga Harapan (PKH) kini mencapai sekitar 2.000 kepala keluarga.
“Kemiskinan berdasarkan data kita ada sekitar 6.000 KK, tetapi setelah dipadankan dengan data penerima PKH, kemiskinan ekstrem yang terdaftar dalam program PKH itu ada sekitar 2.000 KK,” ujar Farid saat ditemui pada Jumat (25/4/2025).
Angka tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah daerah dalam menangani kemiskinan secara lebih terstruktur dan tepat sasaran. Farid juga menjelaskan bahwa pemerintah pusat tengah menyiapkan sistem baru yang lebih rinci untuk klasifikasi sosial-ekonomi, yang dinamai Data Tuntas Sosial Ekonomi Nasional (Detasen).
“Mulai bulan depan, pemerintah se-Indonesia akan memberlakukan Detasen. Di dalamnya, ada klasifikasi dari desil 1, 2, dan 3. Kemiskinan ekstrem itu masuk dalam desil satu dan akan menjadi prioritas penanganan oleh pemerintah,” jelasnya.
Sistem ini diharapkan akan memperjelas siapa saja yang benar-benar membutuhkan bantuan, sehingga program-program sosial bisa lebih tajam dan menyentuh langsung akar permasalahan.
Dari sisi angka makro, kemiskinan ekstrem di Kabupaten Bogor tercatat mengalami penurunan. Jika sebelumnya berada di angka 7,5 persen, kini menyentuh angka 7,02 persen.
“Penurunan angka dari 7,5 persen menjadi 7,02 persen ini cukup berarti,” ungkap Farid, menyiratkan optimisme di tengah tantangan besar.
Namun, cerita tentang kemiskinan tidak hanya berbicara soal statistik. Di lapangan, ribuan keluarga di berbagai kecamatan masih harus bergelut dengan kesenjangan dan akses terhadap kebutuhan dasar.
Berdasarkan data verifikasi P3KE Kemenko PMK dan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) tahun 2024, beberapa kecamatan masih menjadi kantong kemiskinan ekstrem, seperti Cijeruk (2.460 KK), Sukajaya (2.252 KK), dan Leuwiliang (1.970 KK).
Daftar lengkap penyebaran keluarga miskin ekstrem juga mencakup:
- Kecamatan Cigudeg: 1.615 KK
- Kecamatan Sukamakmur: 1.544 KK
- Kecamatan Nanggung: 1.409 KK
- Kecamatan Rumpin: 1.400 KK
- Kecamatan Pamijahan: 1.153 KK
- Kecamatan Megamendung: 1.112 KK
- Kecamatan Jasinga: 1.070 KK
- Kecamatan Ciseeng: 955 KK
- Kecamatan Caringin: 953 KK
Angka-angka ini bukan sekadar data. Mereka mewakili wajah-wajah yang berharap, bekerja keras, dan menunggu uluran tangan pemerintah yang nyata.
Langkah Kabupaten Bogor memang masih panjang. Namun, dengan data yang semakin akurat dan komitmen yang terus ditekankan, harapan untuk keluar dari jerat kemiskinan ekstrem bukanlah mimpi yang mustahil.***














