Krisis Energi dan Manajemen Buruk Hambat Respons Darurat di Korea Utara

0
Krisis Energi dan Manajemen Buruk Hambat Respons Darurat di Korea Utara

NARASITODAY.COM – Di kota Sinuiju, Korea Utara, nyala api yang berkobar dari sebuah kompleks apartemen pada siang hari 27 April 2025 menghanguskan lebih dari sepuluh rumah.

Namun yang paling membekas bagi warga bukan sekadar amukan api melainkan absennya truk pemadam kebakaran ketika bantuan sangat dibutuhkan. Bukan karena tidak tahu, melainkan karena mereka tidak mampu membayar.

“Daripada menghubungi pemadam kebakaran, warga mencoba memadamkan api sendiri setelah sekelompok anak sekolah secara tidak sengaja menyalakan api sekitar pukul 1 siang,” kata seorang sumber kepada Radio Free Asia (RFA), dikutip Minggu (5/5/2025).

Warga setempat ragu untuk menelepon petugas damkar. Bukan karena kurangnya kesadaran akan bahaya, tetapi karena harga bahan bakar yang melambung tinggi membuat layanan darurat seperti truk pemadam kebakaran kini tak lagi gratis meskipun secara resmi, pemerintah menyebutkan sebaliknya.

Baca Juga :  Lahan 400 Meter Persegi Terbakar di Tegal Panjang, Api Cepat Meluas Karena Angin Kencang

“Warga enggan menelepon karena tidak mampu. Saat petugas pemadam kebakaran tiba, api sudah menjalar ke unit tetangga dan atap,” imbuh sumber tersebut.

Kebakaran itu bermula di lantai tujuh gedung 12 lantai dan menjalar ke lantai atas, melahap sekitar 10 unit dari total 120 apartemen. Meskipun tidak ada korban luka atau jiwa, kejadian ini menorehkan luka sosial mendalam: kehilangan rumah dan hilangnya kepercayaan terhadap sistem perlindungan publik.

Baca Juga :  Ledakan Angkot BBG Guncang Citeureup, Dua Rumah Hancur dan Warga Panik

“Orang-orang bertanya apa gunanya pemadam kebakaran jika tidak dapat menanggapi tanpa uang,” kata sumber lain dari kawasan tersebut.

Sistem di Korut mengharuskan warga membayar biaya bahan bakar agar kendaraan darurat seperti truk damkar bisa dikerahkan. Dalam kondisi normal, angka ini mungkin masih bisa dijangkau. Namun kini, biaya sekali pengiriman melonjak drastis menjadi 500.000 won Korea Utara (sekitar Rp 900 ribu), dari hanya 30.000 won pada tahun lalu kenaikan hampir 16 kali lipat.

“Sebagian besar kompleks apartemen terdiri dari sekitar 30 rumah tangga, jadi tidak mudah untuk mengumpulkan 500.000 won dari penduduk,” tambah sumber lainnya.

Baca Juga :  Proses Evakuasi Korban Tabrakan Kereta Api di Stasiun Bekasi Timur Masih Berlangsung, Jumlah Meninggal dan Luka Bertambah

Krisis ini bukan semata tentang kekurangan bahan bakar. Ia adalah potret menyedihkan dari keruntuhan infrastruktur publik di negara tertutup yang selama ini lebih dikenal dunia karena uji coba rudal dan senjata nuklirnya.

Kekurangan dana, peralatan tua, dan buruknya manajemen sumber daya telah membuat layanan darurat tergantung pada kemampuan warga membayar.

Maka, di tengah klaim kekuatan militer dan pencapaian teknologi nuklir, nyatanya, Korea Utara masih kewalahan ketika berhadapan dengan api yang membakar atap rumah rakyatnya.***