NARASITODAY.COM – Lima tahun telah berlalu sejak Pangeran Harry dan Meghan Markle mengambil langkah besar untuk mundur dari tugas-tugas kerajaan senior. Keputusan yang menggemparkan dunia ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan mereka, termasuk pelepasan gelar “His/Her Royal Highness”. Namun, satu hal yang tampaknya tetap tak tergoyahkan adalah gelar Duke dan Duchess of Sussex yang masih mereka sandang hingga kini.
Meskipun keduanya tak lagi menggunakan embel-embel “Yang Mulia” sejak tahun 2020, gelar kehormatan Sussex tetap melekat erat pada diri mereka. Menariknya, bahkan Raja Charles III sendiri dikabarkan tak memiliki kuasa penuh untuk mencabut gelar tersebut secara sepihak. Mengapa demikian?
Ternyata, akar permasalahan terletak pada bagaimana gelar tersebut diberikan. Gelar Duke dan Duchess of Sussex merupakan hadiah personal dari mendiang Ratu Elizabeth II sebagai ungkapan sukacita di hari pernikahan cucunya. Sebagai hadiah pribadi, pencabutannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menurut para ahli hukum kerajaan, untuk mencabut gelar tersebut, Raja Charles harus melalui proses legislatif yang kompleks di Parlemen Inggris.
Ingrid Seward, Pemimpin Redaksi Majesty Magazine, memberikan pandangannya terkait situasi ini. “Ratu (almarhum) memberi mereka gelar-gelar itu, biarkan mereka menyimpannya – toh mereka akan tetap menjadi ‘H dan M’. Saya pikir hal terbaik adalah membiarkan mereka, mengabaikan mereka, dan membiarkan mereka melanjutkan hidup mereka – yang sebenarnya merupakan apa yang dilakukan oleh Istana dan Keluarga Kerajaan,” ujarnya pada Sabtu (10/5), mengisyaratkan bahwa Istana memilih untuk mengambil pendekatan pragmatis dalam menghadapi situasi ini.
Lebih lanjut, Seward menyoroti implikasi rumit jika gelar Sussex dicabut. Menurutnya, status Harry sebagai pangeran darah tidak dapat dihapuskan begitu saja. “Jika gelar-gelar itu dicabut, Harry tetaplah seorang pangeran berdarah campuran dan Meghan, alih-alih menjadi Duchess of Sussex, (akan) menjadi Putri Henry. Itu benar-benar akan membingungkan orang Amerika,” jelasnya, menyoroti potensi kebingungan dan dampak citra publik yang mungkin timbul.
Di sisi lain, meskipun tak lagi aktif dalam lingkaran inti keluarga kerajaan, Meghan Markle sendiri menekankan betapa pentingnya nama Sussex bagi identitas keluarganya. Dalam serial Netflix “With Love, Meghan,” ia berbagi pandangan emosionalnya mengenai nama tersebut dalam percakapannya dengan aktris Mindy Kaling.
“Lucu juga, kamu terus menyebut Meghan Markle. Kamu tahu sekarang aku Sussex… Saya tidak tahu betapa berartinya nama itu bagi saya, tetapi sangat berarti jika Anda berkata, ‘ini nama keluarga kami, nama keluarga kecil kami’,” ungkap Meghan, menunjukkan ikatan emosional yang kuat dengan gelar tersebut.
Kepada majalah People, Meghan menambahkan, “Itu adalah nama yang kami gunakan bersama sebagai sebuah keluarga… Aku senang bahwa nama itu adalah sesuatu yang Archie, Lili, H, dan aku miliki bersama. Itu sangat berarti bagiku.” Pernyataan ini semakin memperjelas bahwa bagi keluarga kecil Sussex, gelar tersebut bukan sekadar sebutan kehormatan, melainkan juga simbol persatuan dan identitas bersama.
Dengan mempertimbangkan rumitnya proses hukum untuk mencabut gelar dan potensi dampak negatif terhadap citra publik, tampaknya Raja Charles III akan memilih jalan yang lebih bijak dengan membiarkan Pangeran Harry dan Meghan Markle tetap menyandang gelar Duke dan Duchess of Sussex – setidaknya untuk saat ini. Sebuah keputusan yang mencerminkan keseimbangan antara tradisi kerajaan, tuntutan publik, dan dinamika keluarga yang terus berubah.***













