NARASITODAY.COM – Di balik meja wawancara yang tampak biasa, petugas Imigrasi Kelas I Non TPI Bogor menyimpan peran penting dalam menjaga keselamatan warga negara. Dari Januari hingga Mei 2025, sebanyak 92 permohonan paspor ditolak bukan karena dokumen tak lengkap, melainkan demi mencegah jerat perdagangan orang berkedok pekerjaan sebagai admin judi online di luar negeri.
“Jadi meskipun KTP dan dokumen lain lengkap, valid, kalau hasil wawancara meragukan, kami bisa tolak,” ujar Kepala Seksi Teknologi dan Informasi Keimigrasian, Stephanie Arimitry Hutapea, saat ditemui di kantornya, Rabu (21/5/2025).
Kasus-kasus ini membuka mata akan modus baru eksploitasi, di mana para perekrut menyasar warga berpendidikan untuk dipekerjakan sebagai operator situs judi ilegal di negara lain. Tak lagi hanya pekerja rumah tangga (ART) yang menjadi korban, tapi juga individu yang tampak punya masa depan cerah.
“Upaya ini untuk melindungi supaya tidak jadi korban TPPO buka n hanya ART, tapi juga admin judol,” tegas Stephanie.
Angka-angka di balik kerja Imigrasi Bogor pun menunjukkan geliat layanan mereka. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, tercatat 22.838 paspor telah diterbitkan. Dari jumlah itu, 11.524 merupakan paspor baru dan 10.518 merupakan paspor pengganti.
Namun di balik angka itu, ada juga 92 orang yang harus tertahan. Sebanyak 35 pria dan 57 wanita harus menerima kenyataan bahwa permohonannya ditolak, sebagian besar karena tidak mampu memenuhi persyaratan administratif.
Di sisi lain, Kantor Imigrasi Bogor terus berbenah dengan menghadirkan inovasi layanan publik. Kepala Kantor, Ritus Ramadhana, menjelaskan berbagai terobosan yang kini menjadi daya tarik, seperti Sunset Service, yakni penggantian paspor di luar jam kerja setiap Jumat sore, serta PEPES TAHU, layanan drive-thru pengambilan paspor di akhir pekan.
“Inovasi ini benar-benar dimanfaatkan dengan baik dan mendapat feedback positif dari masyarakat,” tutur Ritus.
Tak hanya fokus pada efisiensi, Imigrasi Bogor juga mengedepankan sisi kemanusiaan lewat Layanan Ramah HAM, yang mempermudah akses bagi kelompok rentan.
Di tengah geliat mobilitas warga negara, para petugas ini terus memelototi celah-celah kecil yang bisa berujung pada tragedi besar. Penolakan paspor bukan sekadar administrasi ia bisa jadi penyelamat hidup seseorang.***














