NARASITODAY.COM – Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2016–2019, Arcandra Tahar, mengungkapkan bahwa minyak mentah masih menjadi instrumen penting dalam dinamika geopolitik dunia.
Menurutnya, ketegangan yang sering terjadi di kawasan-kawasan penghasil minyak bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari strategi negara-negara besar untuk menjaga kepentingan mereka.
Arcandra menjelaskan bahwa ketidakstabilan di wilayah kaya minyak kerap diciptakan secara sengaja. Hal ini didasarkan pada kekhawatiran bahwa negara-negara penghasil minyak dapat kembali menggunakan komoditas tersebut sebagai alat politik, seperti yang terjadi pada masa lalu.
“Karena sewaktu perang Arab Israel, tahun 73, Arab Saudi menggunakan minyak sebagai senjata. Jadi minyak sebagai senjata. Dengan menggunakan minyak sebagai senjata, caranya mengembargo Amerika,” ujarnya, dikutip Rabu (25/6/2025).
Embargo minyak oleh negara-negara Arab terhadap Amerika Serikat pada 1973 disebut sebagai salah satu contoh nyata penggunaan minyak sebagai senjata geopolitik. Embargo tersebut merupakan balasan atas dukungan AS terhadap Israel dalam konflik Arab-Israel, dan dampaknya menyebabkan krisis energi besar di Amerika.
Arcandra menilai bahwa kondisi stabil di wilayah-wilayah penghasil minyak justru dianggap berisiko oleh negara-negara besar. Dalam kondisi damai, negara-negara produsen dapat lebih leluasa memanfaatkan kekuatan minyak mereka sebagai alat tekanan politik.
“Untuk itu, strategi negara-negara besar ini adalah mungkin salah satunya bagaimana caranya tidak stabil,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti bahwa hasil dari penjualan minyak sering kali digunakan oleh negara-negara produsen untuk memperkuat kekuatan militer mereka. Dana besar yang diperoleh dari ekspor minyak tidak jarang dialokasikan untuk belanja senjata.
“Jadi bukan minyak untuk senjata, tapi uang minyak untuk membeli senjata. Dengan sendirinya, negara seperti Arab Saudi memperkuat persenjataannya, Iraq, Kuwait, Iran juga memperkuat persenjataannya,” ungkap Arcandra.
Pandangan ini menegaskan bagaimana minyak masih menjadi bagian sentral dalam strategi pertahanan dan politik global hingga saat ini.***














