Krisis Air Bersih Kembali Landa Jonggol, Sumur Bor Gagal, Warga Andalkan Sungai

0
industri
Ilustrasi tanah kering saat musim kemarau.foto:istock

NARASITODAY.COM, BOGOR- Memasuki puncak musim kemarau, krisis air bersih kembali melanda wilayah timur Kabupaten Bogor, tepatnya di Kecamatan Jonggol.

Salah satu desa yang terdampak paling parah adalah Desa Sukagalih, terutama di Dusun 3 dan 4, yang nyaris setiap tahun mengalami kekeringan ekstrem.

Kepala Desa Sukagalih, Aja Waridin, menyebut kekeringan sudah menjadi siklus tahunan yang sulit dihindari.

Bahkan upaya pengeboran sumur dalam hingga kedalaman 200 meter tak membuahkan hasil.

“Sudah kami coba dua titik pengeboran, sampai datangkan tim ahli, tetap tidak ketemu sumber air. Yang ada justru cadas hitam. Tiap bulan Agustus-September, warga di Dusun 3 sudah siap-siap hadapi kekeringan,” ungkap Aja, Sebagaimana dilansir dari SuaraBotim.com, Selasa (5/8/2025).

Baca Juga :  Pemkab Bogor Raih Mandaya Awards 2025, Bukti Keseriusan Tangani Kemiskinan Lintas Sektor

Menurut Aja, solusi pengeboran air tidak lagi relevan untuk wilayahnya. Ia menegaskan, solusi jangka panjang yang dibutuhkan adalah sambungan pipa PDAM dengan skema subsidi pemerintah.

“Kalau pakai biaya mandiri, warga pasti kesulitan. Untuk program Pamsimas juga tidak efektif karena tetap andalkan sumur. Kami butuh sambungan air bersih dari PDAM yang masuk ke desa,” tegasnya.

Kekeringan di Sukagalih tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas pertanian, peternakan, serta fasilitas umum seperti sekolah dasar dan masjid.

Sekitar 800 jiwa terdampak langsung di dua dusun tersebut. Tahun 2023, Pemdes Sukagalih mencatat telah menyalurkan 180 tangki air dalam kurun waktu dua bulan.

Baca Juga :  Jaro Ade : Tingkatkan Perekonomian Masyarakat Melalui UMKM Salah Satu Program Visi Misi Paslon Nomor Urut 1

“Mayoritas warga kami petani dan penggembala. Setelah hujan deras mereka tanam padi, tapi satu-dua bulan kemudian air hilang. Buat mandi, cuci, dan minum saja susah,” ujarnya.

Kondisi serupa juga dirasakan warga di Kampung Cimendo, Desa Sukagalih. Sumur gali dan bor di kawasan ini tidak lagi dapat diandalkan.

Warga terpaksa menggunakan air dari Sungai Cihoe untuk mandi dan mencuci, sementara kebutuhan minum harus dibeli dari air galon.

“Pompa air dari sungai jadi andalan. Tapi untuk minum kami beli air galon. Bantuan air dari BPBD kemarin hanya cukup satu hari,” ujar warga Cimendo Dedi.

Baca Juga :  Pemkab Bogor Mulai Uji Coba Car Free Day Tegar Beriman, Langkah Ciptakan Kota Sehat

Pengeboran hingga kedalaman 60 meter di wilayah Cimendo pun tidak membuahkan hasil maksimal.

Debit air yang keluar sangat kecil dan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.

Kini, baik warga maupun pemerintah desa berharap ada langkah konkret dari pemerintah daerah maupun pusat.

Pembangunan jaringan air bersih PDAM bersubsidi menjadi solusi utama yang mereka usulkan, mengingat efektivitasnya jauh lebih teruji dibanding sumur bor.

“Kami tidak ingin program air bersih hanya seremonial. Harus ada solusi permanen, karena ini bukan bencana musiman biasa ini masalah kebutuhan hidup sehari-hari,” tutupnya.***

Editor : Andreas

Sumber : Suarabotim.com