
NARASITODAY.COM, TOKYO – Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba resmi mengundurkan diri pada Minggu (7/9/2025), membuka babak baru ketidakpastian politik di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat bagi negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia.
Keputusan ini diambil setelah ia menyelesaikan kesepakatan perdagangan penting dengan Amerika Serikat terkait penurunan tarif bea masuk yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump.
Dalam konferensi pers emosional, Ishiba menyatakan bahwa dirinya bertanggung jawab atas serangkaian kekalahan pemilu yang dialami koalisi pemerintah.
“Dengan Jepang telah menandatangani perjanjian perdagangan dan presiden telah menandatangani perintah eksekutif, kita telah melewati rintangan utama,” ujarnya. “Saya ingin menyerahkan tongkat estafet kepada generasi berikutnya.”
Kekalahan Politik dan Dampak Ekonomi
Sejak menjabat kurang dari satu tahun lalu, Ishiba menyaksikan koalisi yang dipimpinnya kehilangan mayoritas di kedua majelis parlemen, dipicu oleh kemarahan publik atas meningkatnya biaya hidup. Ia telah meminta Partai Demokrat Liberal (LDP) untuk segera menggelar pemilihan kepemimpinan darurat, dan akan tetap menjabat hingga penggantinya terpilih.
Kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian politik menyebabkan aksi jual terhadap yen dan obligasi pemerintah Jepang. Imbal hasil obligasi 30 tahun bahkan mencatat rekor tertinggi pada Rabu lalu.
Investor kini menyoroti kemungkinan Ishiba digantikan oleh tokoh yang mendukung pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter, seperti Sanae Takaichi, yang dikenal kritis terhadap kenaikan suku bunga Bank of Japan.
Persaingan Pengganti dan Arah Kebijakan Baru
Shinjiro Koizumi, mantan menteri pertanian yang populer, juga disebut sebagai kandidat kuat pengganti Ishiba. Kazutaka Maeda, ekonom dari Meiji Yasuda Research Institute, menilai pengunduran diri Ishiba sebagai langkah yang tak terhindarkan.
“Mengingat tekanan politik yang meningkat terhadap Ishiba setelah kekalahan LDP yang berulang kali dalam pemilu, pengunduran dirinya tak terelakkan,” ujarnya.
Maeda menambahkan, “Mengenai calon pengganti, Koizumi dan Takaichi dipandang sebagai kandidat yang paling mungkin. Meskipun Koizumi diperkirakan tidak akan membawa perubahan besar, sikap Takaichi terhadap kebijakan fiskal ekspansif dan pendekatannya yang hati-hati terhadap kenaikan suku bunga dapat memicu sorotan dari pasar keuangan.”
Pemilu Umum dan Dinamika Politik Baru
Meski LDP masih menjadi partai terbesar di majelis rendah, kehilangan mayoritas parlemen membuat posisi perdana menteri berikutnya tidak sepenuhnya terjamin. Para analis memperkirakan pemimpin baru bisa saja menggelar pemilu umum untuk memperoleh mandat politik yang lebih kuat.
Di sisi lain, partai sayap kanan Sanseito mencatat kemenangan signifikan dalam pemilu majelis tinggi Juli lalu, membawa gagasan anti-imigrasi ke panggung politik utama. Namun, jajak pendapat Kyodo menunjukkan bahwa 55% responden menilai pemilu dini belum diperlukan.
Respons Pasar dan Harapan Publik
Michael Brown, analis dari Pepperstone, memperkirakan tekanan jual terhadap yen dan obligasi jangka panjang akan berlanjut. “Tekanan jual tersebut kemungkinan besar akan datang pertama kali dari pasar yang sekarang perlu memperhitungkan risiko politik yang lebih besar,” katanya.
Ishiba mengakhiri masa jabatannya dengan menyelesaikan kesepakatan dagang senilai US$550 miliar, yang diharapkan dapat mendorong investasi dan meredakan dampak tarif terhadap sektor otomotif Jepang. Ia juga menyampaikan harapan agar penggantinya dapat menjaga kelangsungan kesepakatan tersebut dan mendorong kenaikan upah.
Selain tantangan ekonomi, Ishiba menyoroti kekhawatiran keamanan regional, merujuk pada pertemuan pemimpin Tiongkok, Rusia, dan Korea Utara di Beijing. Ketua Keidanren, Yoshinobu Tsutsui, menegaskan urgensi situasi.
“Tidak ada waktu yang boleh dilewat,” ujarnya.
“Kami berharap pemimpin baru akan memupuk persatuan di dalam partai, menciptakan kondisi politik yang stabil, dan bergerak cepat untuk menerapkan kebijakan yang diperlukan.”
Masyarakat pun berharap pemimpin baru mampu mengelola tantangan tarif dan diplomasi dengan lebih efektif. “Dengan semua gejolak seputar tarif saat ini, saya berharap perdana menteri berikutnya adalah seseorang yang dapat mengelola tarif dengan baik,” kata Maki Utsuno, peneliti kimia berusia 48 tahun, kepada Reuters di Tokyo.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













