NARASITODAY.COM, WASHINGTON, D.C. – Pemerintahan federal Amerika Serikat dipastikan akan menghentikan operasinya mulai tengah malam, Rabu (1/10/2025), setelah Kongres gagal meloloskan rancangan undang-undang (RUU) pendanaan sementara. Penutupan ini terjadi di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, menyusul kebuntuan politik antara Partai Republik dan Demokrat di Senat.
Sistem legislatif AS terdiri dari dua kamar, yakni Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat. DPR yang saat ini dikuasai oleh Partai Republik telah mengesahkan RUU pendanaan sementara, namun tidak berhasil mendapatkan dukungan dari Demokrat di Senat untuk melanjutkan proses ke meja presiden.
Mengutip laporan CNBC International, kedua partai menolak mengalah dari posisi masing-masing. Partai Republik mendorong perpanjangan pendanaan hingga akhir November, sementara Partai Demokrat menuntut jaminan atas anggaran layanan kesehatan bagi rumah tangga berpenghasilan rendah yang dikhawatirkan akan dipangkas oleh pemerintahan Trump.
“Ini hari yang menyedihkan bagi bangsa kita,” ujar Senator John Fetterman, politisi Demokrat dari Pennsylvania yang memilih mendukung RUU Republik, berbeda dari mayoritas anggota partainya.
“Pemerintah kita tutup pada tengah malam,” tambahnya. “Saya tidak akan memilih kekacauan akibat penutupan pemerintah kita. Suara saya adalah untuk negara kita, bukan partai saya.”
Penutupan ini berdampak pada penghentian layanan non-esensial dan menyebabkan sekitar 750.000 pegawai negeri sipil dirumahkan tanpa gaji. Kantor Anggaran Kongres dalam surat kepada Senator Joni Ernst dari Partai Republik menyebutkan bahwa jumlah pegawai yang dirumahkan bisa bertambah seiring lamanya penutupan berlangsung.
“Jumlah pegawai yang dirumahkan dapat bervariasi setiap harinya karena beberapa lembaga mungkin akan merumahkan lebih banyak pegawai semakin lama penutupan berlangsung,” bunyi surat tersebut.
Di sisi lain, Business Roundtable, organisasi yang terdiri dari para CEO perusahaan besar AS, menyerukan agar Kongres segera mengambil langkah untuk membuka kembali pemerintahan.
“Penutupan pemerintah akan menciptakan ketidakpastian, mengganggu layanan penting, dan merugikan bisnis, pekerja, dan keluarga Amerika,” kata CEO Business Roundtable, Joshua Bolten.
“Business Roundtable mendesak Kongres untuk bertindak cepat guna menghindari penutupan pemerintah.”
Penutupan kali ini merupakan yang pertama sejak enam tahun terakhir. Sebelumnya, penutupan terlama dalam sejarah AS terjadi pada masa jabatan pertama Presiden Trump, berlangsung selama 35 hari sejak Desember 2018.
“Kita mungkin akan mengalami penutupan pemerintahan,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval menjelang pemungutan suara pada Selasa.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













