NARASITODAY.COM, ANKARA — Sebanyak 137 aktivis yang sebelumnya ditahan oleh otoritas Israel karena berpartisipasi dalam misi flotilla kemanusiaan menuju Gaza dijadwalkan kembali ke Istanbul, menurut pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Turki pada Sabtu (4/10/2024).
Dalam keterangan tersebut, disebutkan bahwa kelompok yang dipulangkan mencakup 36 warga negara Turki serta aktivis dari berbagai negara lain, termasuk Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Aljazair, Maroko, Italia, Kuwait, Libya, Malaysia, Mauritania, Swiss, Tunisia, dan Yordania. Mereka akan tiba di Istanbul menggunakan penerbangan Turkish Airlines yang dijadwalkan mendarat pukul 15.40 waktu setempat (12.40 GMT).
Misi flotilla yang terdiri dari sekitar 40 kapal pembawa bantuan untuk Gaza dicegat oleh pasukan Israel, yang kemudian menahan lebih dari 450 aktivis. Tindakan ini memicu kecaman dari berbagai negara dan organisasi internasional.
Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, mengonfirmasi bahwa 26 warga Italia termasuk dalam kelompok yang dipulangkan, sementara 15 lainnya masih ditahan dan akan dideportasi dalam waktu dekat.
“Saya telah menginstruksikan Kedutaan Italia di Tel Aviv untuk memastikan bahwa warga kami diperlakukan dengan hormat dan sesuai hak mereka,” ujar Tajani melalui platform X.
Kelompok pertama asal Italia, termasuk empat anggota parlemen, telah tiba di Roma pada Jumat. Salah satu peserta misi, Arturo Scotto, menyampaikan dalam konferensi pers:
“Yang bertindak secara sah adalah mereka yang berada di kapal-kapal itu; yang bertindak melanggar hukum adalah mereka yang mencegah kami mencapai Gaza.”
Sementara itu, Benedetta Scuderi, anggota parlemen Italia lainnya, menambahkan:
“Kami ditangkap dengan kasar… diperlakukan seperti sandera.”
Meski Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa semua aktivis dalam kondisi “aman dan sehat” serta proses deportasi akan dilakukan “secepat mungkin,” laporan dari organisasi hak asasi Adalah menunjukkan sebaliknya.
“Mereka dipaksa berlutut dengan tangan diborgol menggunakan zip-tie selama lebih dari lima jam, setelah beberapa peserta meneriakkan ‘Free Palestine’,” ungkap Adalah dalam pernyataannya.
Organisasi tersebut juga menyebut bahwa sejumlah aktivis tidak diberi akses terhadap pengacara, air minum, obat-obatan, maupun fasilitas dasar seperti toilet.
Misi flotilla yang berlayar pada akhir Agustus merupakan bagian dari upaya internasional untuk menentang blokade laut Israel terhadap Gaza, wilayah yang terus dilanda konflik sejak serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023.
Pemerintah Israel menyebut misi tersebut sebagai “aksi provokatif” dan memperingatkan bahwa pelayaran menuju Gaza melanggar blokade laut yang mereka klaim sah secara hukum.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














