NARASITODAY.COM, SHANGHAI – Kasidit Teerawiboosin, seorang pemuda berusia 22 tahun asal Thailand, pernah menikmati keuntungan besar sebagai penjual kembali mainan Labubu dari Pop Mart. Namun, masa-masa mudah meraup untung dari figur populer bertaring itu kini mulai memudar.
“Harga di pasar jual kembali Thailand turun sangat, sangat, sangat cepat,” ujar Teerawiboosin, yang mulai mengoleksi dan menjual mainan Pop Mart dalam kondisi tersegel sejak awal 2024.
Labubu, bagian dari seri The Monsters milik Pop Mart, menyumbang lebih dari sepertiga pendapatan perusahaan pada semester pertama tahun ini. Popularitasnya melonjak berkat dukungan selebriti ternama seperti Lisa dari Blackpink, Rihanna, dan David Beckham, yang turut mendorong lonjakan harga jual kembali dan nilai saham Pop Mart.
Namun, tren tersebut mulai menurun sejak musim panas. Data dari Qiandao, platform jual beli mainan seni asal Tiongkok, menunjukkan bahwa karakter Labubu “Luck” yang dirilis pada April sempat mencapai harga lebih dari 500 yuan (US$70,20) pada Juni, tetapi kini hanya sekitar 108 yuan. Bahkan, beberapa karakter lain dijual lebih murah daripada harga resmi di gerai Pop Mart.
Penurunan harga ini langsung dikaitkan oleh para investor dengan melemahnya permintaan, menyebabkan saham Pop Mart turun sekitar 25% sejak Agustus. Meski begitu, baik analis maupun pihak Pop Mart menegaskan bahwa penurunan tersebut lebih disebabkan oleh lonjakan pasokan, bukan berkurangnya minat konsumen. Saham Pop Mart masih mencatat kenaikan sebesar 186% sejak awal tahun.
Pop Mart mengonfirmasi bahwa mereka telah meningkatkan produksi mainan, termasuk Labubu, hingga sepuluh kali lipat tahun ini, dengan kapasitas mencapai 30 juta unit per bulan. “Ini mirip tiket konser,” kata Sid Si, Direktur Eksekutif dan co-COO Pop Mart, kepada Reuters pada Rabu (22/10/2025).
“Penggemar sering berebut tiket konser yang dijual kembali dengan harga mahal karena tempat duduk tidak bisa ditambah. Tapi kami bisa secara proaktif meningkatkan pasokan untuk mengurangi tekanan permintaan.”
Jeff Zhang, analis dari Morningstar, menilai bahwa penurunan harga jual kembali bisa berarti permintaan sudah terpenuhi atau hanya karena pasokan yang meningkat, mengingat reseller kemungkinan besar menyumbang sebagian besar penjualan awal.
Dalam laporan ke bursa saham, Pop Mart mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 250% pada kuartal Juli–September, melampaui kenaikan 204,4% pada semester pertama. Sementara itu, analis Morgan Stanley menyebut dalam catatan klien bulan September bahwa “harga di pasar sekunder tidak mencerminkan kondisi pasokan dan permintaan yang sebenarnya,” terutama karena Pop Mart berupaya membatasi praktik scalping.
Karakter baru seperti “Twinkle Twinkle” serta ekspansi ke pasar internasional tetap menjadi motor utama pertumbuhan perusahaan. Dengan dibukanya toko terbesar Pop Mart di Bangkok pada Agustus, Teerawiboosin melihat penurunan harga jual kembali juga dipengaruhi oleh meningkatnya penjualan langsung ke konsumen, yang membuat para reseller di Thailand mulai mencari pasar baru di luar negeri.
“Reseller mulai mengekspor ke negara lain, terutama Eropa atau Rusia tempat yang belum memiliki toko resmi Pop Mart,” katanya.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














