Kepala Staf Pertahanan Nigeria Tegaskan Terorisme Jadi Ancaman Utama, Bukan Penganiayaan Agama

0
Nigeria
Menteri Informasi dan Orientasi Nasional Nigeria, Mohammed Idris Malagi. Foto : 21stcenturychronicle.com

NARASITODAY.COM, ABUJA – Pemerintah Nigeria menyatakan penolakan keras terhadap keputusan Amerika Serikat (AS) yang kembali memasukkan Nigeria ke dalam daftar “negara yang menjadi perhatian khusus” (Special Watch List) atas dugaan pelanggaran kebebasan beragama. Pemerintah Nigeria berdalih bahwa keputusan tersebut didasarkan pada informasi dan data yang keliru.

Keputusan yang dikeluarkan oleh Presiden AS, Donald Trump, pekan lalu ini, disebut telah memperkeruh hubungan diplomatik antara kedua negara. Presiden Trump bahkan dilaporkan meminta Departemen Pertahanan AS untuk bersiap mengambil tindakan militer cepat jika Nigeria tidak menindak kekerasan terhadap umat Kristen.

Baca Juga :  Modus Baru Penipuan Berlabel Tokoh Agama Terungkap di Bogor, Pelaku Diamankan

Menteri Informasi Nigeria, Mohammed Idris, menegaskan bahwa ancaman tindakan militer dari Trump tidak memiliki dasar dan menggambarkan situasi keamanan Nigeria secara tidak akurat.

“Setiap narasi yang menyebut negara kami gagal menindak serangan berlatar agama bersumber dari informasi yang menyesatkan dan data yang tidak akurat,” ujarnya dalam konferensi pers di Abuja.

Sementara itu, Kepala Staf Pertahanan Nigeria, Jenderal Olufemi Oluyede, menambahkan bahwa ancaman utama yang dihadapi Nigeria adalah terorisme, bukan penganiayaan terhadap umat Kristen.

Baca Juga :  Ancaman 10 Tahun Penjara Bagi Pelaku Penganiayaan ART di Kabupaten Bogor

Ia menyatakan pemerintah terbuka untuk bekerja sama dengan AS dalam memerangi kelompok militan, namun dengan syarat kedaulatan dan keutuhan wilayah Nigeria harus dihormati.

Idris juga mengklaim bahwa pemerintahan Presiden Bola Tinubu telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam memerangi terorisme sejak menjabat pada Mei 2023. Ia memaparkan data keberhasilan: lebih dari 13.500 militan tewas, 17.000 tersangka ditangkap, dan lebih dari 11.200 sandera, termasuk perempuan dan anak-anak, berhasil diselamatkan.

Baca Juga :  Pergeseran Prioritas dalam Hidup? Ini 5 Langkah untuk Menyikapinya dengan Baik

“Terrorisme di Nigeria memengaruhi baik umat Kristen maupun Muslim. Pemerintah berkomitmen mengakhiri kekerasan ekstremis melalui operasi militer, kerja sama regional, dan dialog dengan mitra internasional,” kata Idris.

Sebagai negara yang dihuni lebih dari 200 kelompok etnis dengan penganut Islam, Kristen, dan kepercayaan tradisional, Nigeria memiliki sejarah panjang hidup berdampingan. Ketegangan dan kekerasan yang muncul belakangan ini, disebut lebih sering diakibatkan oleh persaingan sumber daya dan faktor etnis, bukan semata-mata karena perbedaan agama.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber