Ilmuwan Ungkap Asal-usul Sikap ‘Ambis’, Ternyata Dipengaruhi Gen hingga Lingkungan

0
Ilmuwan Ungkap Asal-usul Sikap ‘Ambis’, foto : freepik

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Sikap ambisius atau sering disebut ambis ternyata tidak muncul begitu saja. Ilmuwan menjelaskan bahwa dorongan untuk selalu ingin lebih unggul ini bisa dipengaruhi oleh kepribadian, genetik, hingga lingkungan tempat seseorang tumbuh.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat perbedaan itu dengan jelas. Misalnya saat pertandingan olahraga anak-anak, beberapa anak terlihat bersemangat mengejar kemenangan, sementara sebagian lainnya lebih santai dan justru lebih fokus membangun interaksi dengan teman-temannya.

Ahli psikologi menjelaskan bahwa orang kompetitif bukan hanya ingin menang, tetapi ingin memastikan dirinya tampil lebih baik dari orang lain. Perasaan lega muncul ketika hasil yang dicapai melebihi orang lain, dan sebaliknya bisa menimbulkan kegelisahan bila kalah saing.

Baca Juga :  Tips & Trik Bikin Adonan Kulit Onde-Onde Kenyal & Lembut, Ini Resepnya yang Wajib Dicoba

Sebuah analisis menyebutkan bahwa sifat kompetitif kerap muncul pada individu yang extrovert dan sangat teliti. Mereka cenderung memiliki tekad kuat dan arah ambisi yang jelas. Dalam sudut pandang evolusi, sifat kompetitif bahkan dianggap penting untuk bertahan hidup dan mendapatkan status sosial.

Baca Juga :  Atasi Rasa Malas dengan 5 Strategi Decluttering Kamar yang Mudah

Namun bukan hanya faktor internal. Lingkungan keluarga, sekolah, hingga budaya sekitar punya peran besar dalam membentuk tingkat ambisi seseorang. Lingkungan yang sangat berdaya saing biasanya melahirkan pribadi yang ambis, sementara lingkungan yang menekankan kerja sama justru cenderung mengurangi kebutuhan untuk bersaing.

Meski membawa sisi positif seperti dorongan kuat untuk berkembang, sifat kompetitif juga memiliki sisi yang menantang. Individu yang terlalu ambisius disebut lebih rentan terhadap stres, kecemasan, dan perasaan tidak pernah cukup. Penelitian juga menunjukkan bahwa meski performa otak bisa meningkat ketika berkompetisi dengan sosok yang lebih pintar, tubuh mereka menunjukkan tanda-tanda stres fisik seperti detak jantung yang meningkat.

Baca Juga :  Peran Guru dan Orang Tua dalam Membangun Kebiasaan Digital yang Sehat pada Pelajar

Kabar baiknya, sikap ambis bukan sesuatu yang tak bisa dikendalikan. Sikap ini dapat diredam melalui kebiasaan kolaboratif, belajar berbagi, hingga mengubah cara pandang bahwa hidup bukan soal menjadi nomor satu, melainkan berkembang bersama. (MG3)

 

Editor : Mutiara

Sumber : detikedu