Kelelahan dan Rendahnya Gaji Picu Tekanan Besar di Militer Israel, Ribuan Personel Siap Tinggalkan Dinas

0
Militer Israel
Ilustrasi Militer Israel. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, Tel Aviv – Militer Israel tengah menghadapi tekanan serius dari dalam tubuh institusinya sendiri. Di saat perang di Jalur Gaza masih berlangsung, pimpinan angkatan bersenjata memperingatkan potensi krisis personel menyusul lonjakan permintaan pengunduran diri dari kalangan perwira dan bintara aktif.

Harian Yedioth Ahronoth, seperti dikutip Anadolu Agency, melaporkan bahwa militer Israel kini dihadapkan pada apa yang disebut sebagai “eksodus besar-besaran” personel. Dalam laporannya, surat kabar tersebut menyebut tentara Israel sedang mengalami “eksodus massal perwira dan bintara setelah mereka mengajukan permintaan pengunduran diri.”

Menurut laporan itu, sejauh ini telah tercatat sekitar 500 permintaan pengunduran diri dari perwira dan bintara angkatan reguler. Namun, tidak dijelaskan secara rinci kapan pengajuan permintaan tersebut dilakukan.

Baca Juga :  Tiga Bulan Perang Iran Kecemasan dan Amarah Mulai Membakar Publik Israel

Pihak militer Israel, menurut Yedioth Ahronoth, kini “memperingatkan adanya peningkatan permintaan pengunduran diri secara stabil, yang mengindikasikan krisis nyata kekurangan personel yang memengaruhi semua kelompok usia dan jenjang kepangkatan militer, dan kini telah mencapai titik didih.”

Tentara Israel juga memperkirakan jumlah pengunduran diri akan terus bertambah, khususnya dari personel tetap yang bertugas di angkatan reguler. Kondisi ini menambah kekhawatiran terkait keberlanjutan kekuatan dan kesiapan militer Israel dalam jangka menengah hingga panjang.

Baca Juga :  Kematian Tentara dan Penyerangan di Palmyra Memicu Serangan Udara Besar-Besaran dari AS

Laporan tersebut menyoroti persoalan kesejahteraan sebagai salah satu pemicu utama gelombang pengunduran diri. Hingga kini, parlemen Israel, Knesset, belum menyetujui amendemen undang-undang yang memungkinkan peningkatan hak pensiun bagi perwira dan prajurit, dengan kisaran kenaikan antara 7 hingga 11 persen.

Yedioth Ahronoth menjelaskan bahwa sekitar 500 permintaan pengunduran diri tersebut diajukan oleh personel tetap yang masih bertugas di kesatuan reguler, bukan dari pasukan cadangan. Permintaan itu dipicu oleh rendahnya tingkat gaji, kelelahan berkepanjangan, serta tingginya tingkat atrisi selama menjalani dinas militer, terutama di tengah perang di Jalur Gaza.

Baca Juga :  Israel Blokir Patriark Latin Yerusalem, Misa Minggu Palma di Gereja Makam Kudus Batal Digelar

Situasi ini menempatkan pimpinan militer Israel dalam posisi sulit. Tentara Israel dilaporkan “berjuang untuk meyakinkan ribuan perwira dan bintara agar tetap melanjutkan dinas permanen, dengan hasil yang diperkirakan berupa penurunan kinerja keseluruhan angkatan bersenjata.”

Krisis internal tersebut muncul di tengah operasi militer Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza sejak Oktober 2023. Dalam periode itu, Israel dilaporkan telah menewaskan hampir 70.700 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 171.000 lainnya. Wilayah Gaza juga dilaporkan mengalami kehancuran luas akibat operasi militer yang berkepanjangan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com