Pasukan Perdamaian Indonesia dan Italia Siap Ditempatkan di Gaza, Ada Garis Merah Larangan Kontak dengan Hamas!

0
Lembah Bekaa
Ilustrasi bangunan rumah-rumah digaza yang sudah hancur. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, DOHA – Di tengah puing-puing dan keheningan gencatan senjata yang rapuh, sebuah rencana besar untuk masa depan Jalur Gaza mulai digodok di meja diplomasi internasional. Indonesia dan Italia dilaporkan telah mencapai kesepakatan prinsip untuk mengirimkan personel mereka sebagai bagian dari International Stabilization Force (ISF).

Namun, kesediaan dua negara dari benua berbeda ini datang dengan satu garis merah yang tegas: tidak ada kontak langsung dengan Hamas.

Laporan yang dikutip dari surat kabar Israel Today via Middle East Monitor, Kamis (18/12/2025), mengungkapkan bahwa ketentuan non-kontak tersebut menjadi syarat utama bagi Jakarta dan Roma. Hal ini mencerminkan betapa peliknya posisi politik dan risiko keamanan yang harus dihadapi oleh pasukan penjaga perdamaian di wilayah yang telah luluh lantak tersebut.

Baca Juga :  Warna Brave Pink dan Hero Green Jadi Bahasa Visual Baru Dalam Gerakan Sosial Indonesia

“Kesediaan Indonesia dan Italia diberikan dengan ketentuan yang jelas, yakni pasukan mereka tidak akan melakukan kontak langsung dengan Hamas,” tulis laporan tersebut.

Langkah ini menjadi bagian dari agenda konferensi besar yang dijadwalkan Amerika Serikat di Doha, Qatar. Pertemuan tersebut bertujuan untuk menghimpun negara-negara yang bersedia berkontribusi menjaga stabilitas Gaza pascakonflik. Meski demikian, banyak negara masih bersikap menunggu (wait and see) hingga Hamas benar-benar dilucuti senjatanya.

Meski pasukan fisik belum sepenuhnya mendarat, mesin pemantau perdamaian sudah mulai bekerja. Lebih dari 24 negara kini telah bergabung di sebuah markas internasional di Kiryat Gat, Israel selatan. Di sana, para pakar militer dan diplomat mengawasi jalannya gencatan senjata sambil menyusun strategi pengerahan pasukan stabilisasi yang baru.

Baca Juga :  Jaro Ade Ajak ASN Teladani Rasulullah SAW Dalam Melayani Masyarakat

Berdasarkan rencana yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump, pengerahan ini akan dilakukan secara bertahap:

  • Fase Pertama: Pasukan akan ditempatkan terbatas di wilayah Gaza selatan yang masih di bawah kendali Israel.
  • Titik Awal: Pangkalan pertama sedang dibangun di Rafah, yang nantinya akan diikuti oleh beberapa pangkalan tambahan di area-area strategis.

Di sisi lain, jalan menuju perdamaian masih dipenuhi hambatan diplomatik. Turki telah menyatakan kesiapannya untuk mengirim tentara, namun Israel menolak keras kehadiran militer Ankara di lapangan. Alhasil, pasukan Turki kemungkinan hanya akan muncul pada fase ketiga, yakni fase rekonstruksi tanpa membawa senjata.

Baca Juga :  Persaingan Memanas! Ducati Beri Peringatan kepada Bagnaia di Tengah Berebut Tempat Ke-3

Persoalan serupa menimpa pasukan Palestina yang telah menjalani pelatihan di Mesir. Meskipun mereka merupakan kekuatan potensial yang terdiri dari ratusan personel, Israel tetap menentang keterlibatan mereka karena afiliasi mereka dengan Otoritas Palestina.

Keterlibatan Indonesia dalam misi ini menandai langkah diplomasi aktif Jakarta di panggung dunia. Namun, dengan penempatan awal yang tetap berada di bawah kontrol otoritas keamanan Israel, misi stabilisasi ini diprediksi akan menjadi salah satu tugas paling menantang bagi personel TNI di bawah bendera internasional.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com