Kebijakan Pemangkasan Bonus, Atlet Thailand Merasa Janji Manis Kini Jadi Pahit

0
atlet Thailand
SEA Games 2025 Thailand resmi berakhir, acara closing ceremony yang berlangsung di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand pada Sabtu (20/12/2025) malam. Foto : kemenpora.go.id

NARASITODAY.COM, BANGKOK – Senyum kemenangan para atlet Thailand usai merajai SEA Games ke-33 mendadak getir. Di balik prestasi gemilang yang membawa pulang ratusan medali, terselip kekecewaan mendalam setelah pemerintah Thailand memutuskan untuk memangkas bonus medali secara signifikan, membatalkan janji manis yang sempat diumbar sebelum kompetisi dimulai.

Media Thailand, CH7, memberikan tajuk yang cukup menyentil perasaan publik: “Mimpi atlet Thailand hancur ketika bonus emas SEA Games dibatalkan, dari 500.000 baht menjadi hanya 300.000 baht.” Sebuah kalimat yang menggambarkan akhir pahit dari perjuangan keringat dan air mata di arena laga.

Sebelum api obor SEA Games 2025 dinyalakan, Komite Olimpiade Thailand sempat meniupkan angin segar dengan mengumumkan kenaikan skema bonus. Medali emas yang semula dihargai 300.000 baht dijanjikan melonjak menjadi 500.000 baht (sekitar Rp223 juta). Begitu pula dengan perak dan perunggu yang dijanjikan naik hampir dua kali lipat.

Baca Juga :  Setelah 10 Tahun, Fidya Kamalindah Mengungkapkan Kebenaran di Balik Kasus "Penculikan" yang Menggemparkan

Namun, realitas berbicara lain. Meski kontingen “Gajah Putih” tampil luar biasa dengan torehan 233 emas, 154 perak, dan 112 perunggu, hadiah yang mendarat di kantong mereka justru menyusut kembali ke angka lama sebuah pemangkasan drastis hingga 40 persen.

Kekecewaan ini bukan sekadar soal angka di atas kertas, melainkan soal harapan pribadi para atlet. Kissada Yamine Nilsawai, bintang tim voli putra Thailand yang sukses mempersembahkan emas, tak mampu membendung keluhannya di media sosial.

“Bisakah para pemimpin mempertahankan bonus emas SEA Games sebesar 500.000 baht? Saat mendengar angka itu, saya sangat senang. Sekarang hanya 300.000 baht, saya benar-benar tidak mengerti alasannya. Saya bahkan sudah berencana merenovasi kamar mandi di rumah yang penuh kecoa,” tulis Kissada dengan nada getir.

Baca Juga :  4 Atlet Indonesia Siap Bersaing di Final Speed Piala Dunia Panjat Tebing Chamonix

Suara sumbang tidak hanya datang dari individu, sejumlah federasi olahraga pun melayangkan protes keras kepada Komite Olimpiade Thailand karena kebijakan ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap kesepakatan awal.

Menanggapi gelombang protes tersebut, pemerintah Thailand melalui Direktur National Sports Development Fund (NSDF), Tanukiart Chanchum, akhirnya angkat bicara. Ia berdalih bahwa pihaknya terbentur oleh aturan birokrasi yang kaku.

“Saat ini NSDF harus mematuhi regulasi yang ada. Dalam aturan tersebut, bonus maksimal adalah 300.000 baht untuk emas, 150.000 baht untuk perak, dan 75.000 baht untuk perunggu,” jelas Tanukiart kepada harian Matichon.

Selain masalah regulasi, pemerintah Thailand juga mengedepankan alasan kemanusiaan di tingkat nasional. Anggaran negara saat ini tengah diperketat guna memprioritaskan bantuan bagi warga yang terdampak bencana banjir besar.

Baca Juga :  Liverpool Gagal Pertahankan Rekor Sempurna di Liga Champions Setelah Kalah dari PSV Eindhoven

“Jika bonus dinaikkan sekarang, akan sulit menurunkannya di masa depan. Selain itu, meminta tambahan dana dari pemerintah pusat saat ini tidak tepat karena banyak masyarakat masih terdampak banjir dan pemerintah harus memprioritaskan bantuan bagi mereka,” tegas Tanukiart.

Bagi para atlet, penjelasan ini mungkin menjadi pil pahit yang harus ditelan. Di satu sisi mereka adalah pahlawan olahraga, namun di sisi lain, mimpi-mimpi sederhana seperti merenovasi rumah harus tertunda karena terjepit di antara aturan dan krisis nasional.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber