Dari Bahaya ke Kelezatan, Jepang Mengubah Populasi Beruang Menjadi Menu Kuliner Mewah

0
Utsunomiya
Ilustrasi Beruang cokelat di atas batu. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TOKYOJepang tengah menghadapi fenomena unik yang lahir dari sebuah krisis. Beruang, yang tahun ini mencatat rekor kelam dengan 13 kematian akibat serangannya, kini justru beralih fungsi dari predator yang ditakuti menjadi komoditas kuliner ekstrem yang diburu para pelancong dan pecinta kuliner.

Krisis ini bermula dari gangguan satwa liar yang semakin berani memasuki rumah, sekolah, hingga supermarket. Namun, di balik operasi pembasmian besar-besaran yang dilakukan pemerintah, muncul peluang ekonomi yang mengubah “gangguan” menjadi hidangan kelas atas.

Di kota pegunungan Chichibu, dekat Tokyo, restoran milik Koji Suzuki menjadi saksi bisu pergeseran ini. Suzuki menyajikan daging beruang yang dimasak di atas batu panas atau dalam panci sayuran, yang semuanya berasal dari program pengendalian populasi.

Baca Juga :  Anak Putri Mahkota Norwegia Marius Borg Hoiby Diadili atas 38 Tuduhan Serius, Termasuk Pemerkosaan dan Narkoba

“Dengan semakin banyaknya berita tentang beruang, jumlah pelanggan yang ingin mencicipi dagingnya meningkat pesat,” kata Suzuki (71), seorang pemburu kawakan kepada AFP, dikutip Rabu (24/12/2025).

Bagi Suzuki, mengonsumsi daging ini adalah bentuk penghormatan terakhir. Ia berkeyakinan bahwa lebih baik daging satwa tersebut dimanfaatkan sebagai makanan daripada dikubur sia-sia. Sang istri, Chieko (64), bahkan mengaku kewalahan dan kerap menolak pelanggan karena stok yang terbatas akibat tingginya minat pasar.

Pengalaman unik ini dirasakan oleh Takaaki Kimura (28), seorang komposer muda yang sengaja datang untuk mencicipi rasa yang tidak biasa tersebut. “Dagingnya sangat juicy, dan semakin lama dikunyah rasanya semakin enak,” tuturnya.

Baca Juga :  Peluncuran Indonesia Central Cloud Region, Langkah Strategis Microsoft Dukung Inovasi Lokal

Pemerintah Jepang merespons krisis populasi ini dengan serius, mengerahkan polisi anti-huru-hara hingga subsidi sebesar 18,4 miliar yen (sekitar Rp1,9 triliun). Langkah ini bertujuan mengendalikan populasi sekaligus mendorong “konsumsi berkelanjutan” dari satwa liar.

Kementerian Pertanian Jepang menyatakan pentingnya “mengubah satwa liar yang mengganggu menjadi sesuatu yang positif”. Hal ini disambut baik oleh para pelaku usaha dari berbagai daerah.

  • Aomori: Katsuhiko Kakuta (50), pengelola restoran desa, melaporkan stoknya ludes setelah viral melalui unggahan influencer.
  • Sapporo: Koki Kiyoshi Fujimoto membawa daging beruang cokelat ke level fine dining dengan harga paket sekitar US$70 (Rp1,1 juta) per porsi. “Saya merasa baik menggunakan bahan lokal. Sekarang lebih banyak orang ingin mencobanya dibanding sebelumnya,” ujar Fujimoto.
Baca Juga :  Sosis Solo Kari Daging dan Kentang: Lezatnya Kelezatan Tradisional dengan Sentuhan Modern

Meski menjadi tren, para ilmuwan memperingatkan bahwa fenomena ini berakar pada krisis struktural yang serius. Pertumbuhan populasi beruang yang tak terkendali, penyusutan warga di pedesaan, serta gagal panen biji ek memaksa hewan-hewan ini turun ke pemukiman manusia.

Di Hokkaido saja, populasi beruang cokelat melonjak hingga lebih dari 11.500 ekor pada 2023. Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah setempat berencana membasmi sekitar 1.200 ekor beruang setiap tahunnya selama satu dekade ke depan, sebuah langkah drastis yang dipastikan akan terus memasok meja-meja restoran di seantero Jepang.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com