
NARASITODAY.COM, OSLO – Marius Borg Hoiby, anak laki-laki dari Putri Mahkota Norwegia Mette-Marit, mulai menjalani proses pengadilan atas tuduhan serius yang mencoreng citra monarki negara kaya Eropa tersebut. Sebanyak 38 dakwaan diajukan terhadap pria berusia 29 tahun itu, termasuk empat kasus pemerkosaan, pelanggaran narkoba, dan penyerangan.
Kasus ini disebut-sebut sebagai skandal terbesar dalam sejarah monarki Norwegia selama 120 tahun terakhir. Persidangan yang berlangsung sejak Selasa lalu di Pengadilan Distrik Oslo diperkirakan akan berlangsung hingga 19 Maret dan menarik perhatian luas dari media internasional.
“Jika menyangkut keluarga kerajaan Norwegia, ini tanpa diragukan lagi adalah skandal terbesar dalam sejarah 120 tahun monarki,” kata sejarawan dan pakar monarki Norwegia, Trond Noren Isaksen, kepada AFP, dikutip Jumat (30/1/2026).
Ancaman Hukuman Hingga 16 Tahun Penjara
Jika terbukti bersalah, Hoiby berpotensi dihukum maksimal 16 tahun penjara. Tuduhan paling berat mencakup empat kasus pemerkosaan serta pelecehan fisik dan psikologis terhadap mantan pasangan. Hingga kini, Hoiby hanya mengakui sebagian dakwaan yang lebih ringan, sementara sisanya masih dalam proses penyidikan.
“Hoiby menyimpan versinya untuk pengadilan,” ujar firma hukum yang membelanya, menegaskan bahwa proses peradilan akan menentukan langkah selanjutnya.
Awal Mula Kasus dan Perkembangannya
Kasus ini mencuat setelah Hoiby ditangkap pada 4 Agustus 2024 atas dugaan menyerang pacarnya. Ia mengaku bertindak di bawah pengaruh alkohol dan kokain, serta mengaku memiliki masalah kesehatan mental dan riwayat penyalahgunaan zat.
Penyelidikan lanjutan mengungkap dugaan pemerkosaan terhadap empat perempuan yang terjadi pada 2018, 2023, dan 2024, termasuk saat korban sedang tidur atau dalam kondisi mabuk berat. Beberapa korban diduga direkam pelaku tanpa sepengetahuan mereka.
Pekan lalu, polisi menambahkan enam dakwaan baru, termasuk pelanggaran narkotika serius terkait pengangkutan 3,5 kilogram ganja pada 2020, yang telah diakui Hoiby. Jaksa Sturla Henriksbo menegaskan bahwa semua orang harus diperlakukan setara di mata hukum. “Hoiby tidak boleh diperlakukan lebih lunak atau lebih keras karena afiliasi keluarganya,” ujarnya.
Reaksi Keluarga dan Dukungan Publik
Putra Mahkota Norwegia, Haakon, menyatakan keluarga kerajaan menghormati proses hukum dan tidak akan menghadiri persidangan. Ia menegaskan kepercayaan bahwa pengadilan akan berjalan adil. “Kami sangat mempertimbangkan semua pihak yang terlibat,” katanya.
Meski skandal ini menodai citra istana, dukungan publik tetap cukup tinggi. Jajak pendapat NRK menunjukkan sekitar 70% warga Norwegia masih mendukung monarki, meski angka ini sedikit menurun dari 81% pada 2017.
Kasus yang melibatkan anggota keluarga kerajaan ini menjadi sorotan internasional, bukan hanya karena tuduhan serius yang dihadapinya, tetapi juga karena mencerminkan tantangan besar yang dihadapi institusi monarki modern.
Proses pengadilan ini akan menjadi ujian besar bagi transparansi dan keadilan di dalam sistem hukum Norwegia, sekaligus menegaskan bahwa tidak ada yang berada di atas hukum.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com












