NARASITODAY.COM, TEHERAN – Suara itu datang dari balik tembok tinggi yang menjadi penjara selama 15 tahun terakhir. Mir Hossein Mousavi, mantan Perdana Menteri Iran yang kini menjadi tahanan rumah, melontarkan kecaman paling berani terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Ia menuntut rezim ulama segera menanggalkan kekuasaan menyusul apa yang ia sebut sebagai “penindakan berdarah” terhadap para demonstran.
Pernyataan yang dirilis melalui media Kalame miliknya pada Kamis (29/1/2026) ini, memecah kesunyian politik Mousavi yang telah diisolasi sejak 2011.
Kejahatan di Atas “Halaman Hitam”
Bagi Mousavi, aksi protes yang pecah sejak akhir Desember lalu bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan titik balik bagi bangsa Iran. Ia menyebut tindakan keras aparat sebagai pengkhianatan besar terhadap rakyat sendiri.
“Dengan bahasa apa lagi rakyat harus mengatakan bahwa mereka tidak menginginkan sistem ini dan tidak mempercayai kebohongan Anda? Cukup sudah. Permainan ini selesai,” tegas Mousavi.
Data dari kelompok hak asasi manusia memang mengonfirmasi kengerian tersebut. Ribuan kematian telah diverifikasi selama demonstrasi, bahkan muncul kekhawatiran angka korban jiwa akibat tindakan aparat keamanan bisa menyentuh angka puluhan ribu orang. Mousavi menyebut periode ini sebagai “halaman hitam dalam sejarah bangsa kita” serta “pengkhianatan besar dan sebuah kejahatan”.
Rivalitas Tua dan Referendum
Mousavi bukanlah orang asing bagi sistem ini. Ia adalah Perdana Menteri terakhir Iran (1981-1989) sebelum jabatan itu dihapus dalam revisi konstitusi. Sejarah mencatat rivalitas panjangnya dengan Khamenei sejak dekade 1980-an, di mana Mousavi selalu dipandang sebagai sosok yang lebih moderat di dalam sistem.
Di tengah ancaman bayang-bayang militer dari Washington pasca-penindakan tersebut, Mousavi justru menunjukkan sikap nasionalisnya. Ia menyerukan digelarnya “referendum konstitusi” sebagai solusi damai, namun dengan tegas menyatakan penolakan terhadap segala bentuk “campur tangan asing”.
Sinyal Kebangkitan Rakyat
Pesan Mousavi juga ditujukan langsung kepada barisan pemegang senjata yang selama ini menjadi tameng rezim. Ia meyakini bahwa loyalitas aparat memiliki batas jika terus dipaksa berhadapan dengan rakyatnya sendiri.
“Turunkan senjata kalian dan mundurlah dari kekuasaan agar bangsa ini sendiri dapat memimpin negeri ini menuju kebebasan dan kesejahteraan,” ujarnya seperti dikutip dari AFP.
Menurut Mousavi, rakyat Iran kini “tidak punya pilihan lain” selain kembali turun ke jalan. Ia memprediksi bahwa aparat keamanan “cepat atau lambat akan menolak memikul beban” untuk terus menekan gerakan rakyat tersebut.
Dengan latar belakang sejarah sebagai tokoh sentral Gerakan Hijau 2009, suara Mousavi dari pengasingan rumah ini menjadi pengingat bahwa bara api perlawanan di jantung Iran belum sepenuhnya padam.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














