Kim Jong Un Copot Wakil Perdana Menteri, Tegaskan Disiplin Jelang Kongres Partai Buruh

0
Korea Utara
Kim Jong.Foto : jawapos.com

NARASPYONGYANG – Musim dingin yang membeku, sebuah drama politik tingkat tinggi terjadi di pusat industri mesin Korea Utara. Pemimpin tertinggi Kim Jong Un secara resmi mencopot Yang Sung Ho dari jabatannya sebagai Wakil Perdana Menteri, sebuah langkah drastis yang mengirimkan sinyal “badai” disiplin kepada jajaran pejabat tinggi negara.

Langkah tegas ini diambil di saat Pyongyang tengah bersiap menyongsong kongres akbar Partai Buruh. Namun, alih-alih apresiasi, Kim justru meluapkan amarahnya saat meresmikan selesainya tahap pertama proyek modernisasi di Kompleks Mesin Ryongsong yang bersejarah.

Melansir laporan kantor berita pemerintah Korean Central News Agency (KCNA) pada Selasa (20/1/2026), Kim menuding Yang Sung Ho telah menciptakan “kekacauan buatan manusia yang tidak perlu” yang berdampak sistemik pada ketahanan nasional.

Baca Juga :  Akibat Sering Mati Listrik, Warga Geram Barang Elektronik Banyak Yang Rusak, PLN Rayon Jasinga di Minta Gercep Tangani Gangguan

“Otoritas telah menyia-nyiakan dana dan tenaga kerja dalam jumlah besar,” ujar Kim dengan nada kecewa sebagaimana dikutip dari KCNA.

Bagi Kim, kegagalan dalam industri mesin bukan sekadar masalah administrasi, melainkan ancaman bagi pertahanan. Ia mengungkapkan bahwa ketidakmampuan birokrasi ini telah memberikan beban berat bagi sektor industri amunisi negara jantung dari kekuatan militer Korea Utara.

Baca Juga :  Dunia Cemas, Perang Rudal dan Drone India-Pakistan Terus Berlanjut di Perbatasan Kashmir

Dalam momen yang penuh ketegangan, Kim mengungkapkan bahwa ia telah memantau perilaku Yang sejak rapat partai Desember lalu. Namun, karena tidak adanya perubahan sikap, pemecatan publik yang memalukan pun menjadi keputusan akhir.

“Mulai hari ini, saya nyatakan Anda diberhentikan, kawan Wakil Perdana Menteri,” tegas Kim, mengakhiri karier politik Yang Sung Ho seketika.

Sentuhan “pembersihan” birokrasi ini dipandang para analis sebagai upaya Kim untuk membasmi sikap pasif dan mentalitas “kekalahan” di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Meski ekonomi Korea Utara tercatat tumbuh 3,7% pada tahun 2024, negara tersebut masih berjuang melawan sanksi internasional dan inefisiensi sistem yang terpusat.

Baca Juga :  Hiasi Taman dengan Bee Balm: Tanaman yang Mengundang Lebah dan Melawan Penyakit

Langkah ini seolah menjadi “ritual” politik Kim untuk mengalihkan beban kesalahan atas hambatan ekonomi kepada pundak para bawahannya. Dengan kongres Partai Buruh yang diperkirakan akan dibuka pada akhir Januari atau Februari mendatang, pesan Kim sangat jelas: tidak ada ruang bagi kegagalan dalam menetapkan target ekonomi baru.

Di balik tembok-tembok kokoh Pyongyang, pencopotan Yang Sung Ho kini menjadi pengingat bagi setiap pejabat tinggi bahwa loyalitas tanpa kompetensi adalah jalan pintas menuju kejatuhan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com