NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Langit Amerika Serikat mendadak sunyi pada Sabtu (25/1/2026). Ribuan pesawat yang seharusnya membelah awan terpaksa tetap terparkir di landasan pacu saat badai musim dingin besar bernama “Fern” mulai melumpuhkan denyut transportasi udara dan mengancam jutaan nyawa dengan suhu beku yang ekstrem.
Berdasarkan data FlightAware, hingga pukul 17.00 waktu setempat, lebih dari 3.900 penerbangan telah dibatalkan. Angka ini diprediksi akan membengkak, mengingat lebih dari 8.800 jadwal penerbangan untuk hari Minggu juga sudah resmi dihapus dari papan keberangkatan.
Bukan sekadar salju biasa, para meteorolog menggambarkan badai ini sebagai salah satu yang terparah dalam beberapa dekade terakhir. National Weather Service (NWS) mengeluarkan peringatan keras bahwa akumulasi es yang akan menyapu dua pertiga wilayah timur AS bersifat melumpuhkan.
“Dampaknya bisa melumpuhkan hingga secara lokal bersifat katastrofik,” tulis NWS dalam pernyataan resminya.
Gumpalan es dan hujan beku tidak hanya mengancam mobilitas, tetapi juga infrastruktur energi. Di Virginia, Dominion Energy yang mengelola pusat data terbesar di dunia tengah bersiap menghadapi skenario terburuk. Pihak perusahaan menyebut badai ini bisa menjadi peristiwa musim dingin terbesar yang pernah memengaruhi operasional mereka.
Presiden Donald Trump bergerak cepat dengan menyetujui deklarasi darurat bencana federal untuk 12 negara bagian, mulai dari South Carolina hingga West Virginia. Melalui platform Truth Social, Trump melabeli badai ini sebagai peristiwa “bersejarah”.
“Kami akan terus memantau dan tetap berkomunikasi dengan seluruh negara bagian yang berada di jalur badai ini. Tetap aman, dan tetap hangat,” tulis Trump.
Kekacauan di bandara memaksa maskapai melakukan manuver darurat. Delta Air Lines, misalnya, harus mengerahkan tim ahli dari wilayah utara yang terbiasa dengan cuaca dingin menuju bandara-bandara di wilayah selatan untuk membantu proses pencairan es (de-icing).
“Kami terus melakukan penyesuaian jadwal akibat Badai Musim Dingin Fern,” jelas Delta Air Lines dalam keterangan resminya. Pembatalan massal ini dilaporkan paling banyak berdampak pada hub besar seperti Atlanta, Boston, dan New York City.
Warga kini bersiap menghadapi “puncak” dingin yang lebih menusuk pada awal pekan depan. Salju tebal dan hujan es diperkirakan akan mencapai wilayah Great Plains pada Senin, membawa rekor suhu dingin dan hembusan angin yang membahayakan nyawa bagi siapa pun yang terjebak di luar ruangan.
Hingga saat ini, pemerintah mengimbau warga untuk tetap berada di dalam rumah dan memastikan stok kebutuhan darurat mencukupi, sementara petugas lapangan berpacu dengan waktu sebelum es benar-benar mengunci akses wilayah.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














