
NARASITODAY.COM, TOKYO – Menjelang pemilihan umum nasional Jepang yang akan digelar Minggu (8/2/2026), dukungan tak terduga datang dari seberang Samudra Pasifik. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka memberikan “mandat” moral kepada Perdana Menteri Sanae Takaichi, sebuah langkah yang mempertegas kedekatan ideologis antara dua pemimpin nasionalis tersebut.
Dukungan ini meluncur di tengah prediksi bahwa Takaichi, perdana menteri perempuan pertama Jepang yang kerap dijuluki “Iron Lady” dari Timur, akan membawa koalisinya meraih kemenangan telak di parlemen.
“Perdana Menteri Takaichi adalah seseorang yang pantas mendapatkan pengakuan yang kuat atas pekerjaan yang dia dan Koalisinya lakukan,” tulis Trump melalui platform Truth Social, Kamis (5/2/2026). Ia menegaskan memberikan “dukungan penuh dan total” bagi arah kebijakan Takaichi.
Langkah Trump ini bukanlah sebuah kebetulan. Analis melihat pola serupa saat Trump merangkul tokoh-tokoh sayap kanan dunia seperti Viktor Orban di Hungaria atau Javier Milei di Argentina. Di Jepang, dukungan ini disambut hangat oleh sektor industri yang mendambakan stabilitas hubungan bilateral.
Analis geopolitik Mizuho Bank, Asuka Tatebayashi, menilai bahwa sosok Trump memiliki daya tarik tersendiri di mata publik dan pelaku usaha Jepang.
“Dari perspektif komunitas bisnis, peningkatan hubungan dan pengakuan yang lebih baik oleh Trump akan dilihat sebagai hal yang positif,” ujar Tatebayashi.
Merespons sinyal dari Washington, juru bicara pemerintah Jepang, Kei Sato, mengonfirmasi bahwa Takaichi telah diundang untuk mengunjungi Gedung Putih pada 19 Maret mendatang.
“Di tengah situasi internasional yang berubah dengan cepat, kunjungan ini diharapkan dapat menegaskan kembali ikatan yang tak tergoyahkan dari aliansi Jepang-AS,” kata Sato dalam konferensi pers di Tokyo.
Meski jajak pendapat memprediksi koalisi LDP dan Partai Ishin mampu menguasai sekitar 300 dari 465 kursi majelis rendah, jalan Takaichi tidak sepenuhnya mulus. Gaya kepemimpinannya yang terinspirasi Margaret Thatcher membawa konsekuensi ganda.
Di panggung diplomasi, sikap kerasnya terhadap China terkait isu Taiwan telah memicu riak ketegangan dengan Beijing. Sementara di sektor domestik, janji kampanyenya untuk menangguhkan pajak penjualan makanan demi meringankan beban rakyat justru membuat pasar keuangan bergejolak. Investor mulai mengkhawatirkan beban utang raksasa Jepang yang bisa membengkak jika negara kehilangan potensi pendapatan hingga Rp530 triliun.
Kini, dunia menanti apakah “restu” dari Trump akan menjadi angin segar yang menyapu keraguan pasar, atau justru mempertegas garis konfrontasi di kawasan Asia Timur saat kotak suara dibuka akhir pekan ini.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













