NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Vatikan menegaskan tidak akan berpartisipasi dalam inisiatif “Board of Peace” yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Keputusan itu disampaikan langsung oleh Kardinal Pietro Parolin, Sekretaris Negara Vatikan sekaligus pejabat diplomatik tertinggi Takhta Suci.
“Takhta Suci tidak akan berpartisipasi dalam Board of Peace karena sifatnya yang khas, yang jelas berbeda dari negara-negara lain,” ujar Parolin. Ia menekankan bahwa penanganan krisis internasional “di atas segalanya harus ditangani oleh PBB,” sebuah prinsip yang menurutnya konsisten dijunjung Vatikan.
Undangan untuk Paus Leo XIV
Trump sebelumnya mengundang Paus Leo XIV paus pertama asal Amerika Serikat yang dikenal vokal mengkritik kebijakan Gedung Putih untuk bergabung dalam dewan tersebut. Namun, Vatikan memilih menolak.
Board of Peace awalnya dirancang untuk mengawasi tata kelola sementara di Jalur Gaza setelah gencatan senjata rapuh pada Oktober lalu. Trump kemudian memperluas mandat dewan itu untuk menangani konflik global, dengan dirinya sebagai ketua. Pertemuan perdana dijadwalkan berlangsung di Washington pada Kamis, dengan agenda utama rekonstruksi Gaza.
Respons Internasional
Sejumlah negara menanggapi undangan Trump dengan hati-hati. Italia dan Uni Eropa menyatakan akan hadir sebagai pengamat, namun belum resmi bergabung. Beberapa pakar HAM menilai struktur dewan yang dipimpin langsung oleh presiden AS menyerupai model kolonial, apalagi tanpa melibatkan perwakilan Palestina.
Kekhawatiran juga muncul bahwa Board of Peace dapat melemahkan peran PBB dalam menjaga stabilitas global. Beberapa sekutu Washington di Timur Tengah dilaporkan ikut serta, sementara sekutu Barat masih menahan diri.
Gaza di Tengah Krisis
Situasi Gaza terus memburuk. Gencatan senjata yang dimulai Oktober berulang kali dilanggar. Ratusan warga Palestina dan empat tentara Israel dilaporkan tewas sejak itu. Serangan militer Israel disebut telah menewaskan lebih dari 72.000 orang, memicu krisis kelaparan, serta membuat seluruh populasi Gaza mengungsi.
Penyelidikan PBB dan sejumlah akademisi menyebut kondisi tersebut sebagai genosida. Israel, sebaliknya, menyatakan tindakannya sebagai pembelaan diri setelah serangan Hamas pada akhir 2023 menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 orang.
Paus Leo XIV berulang kali menyuarakan keprihatinan atas kondisi kemanusiaan di Gaza. Sebagai pemimpin 1,4 miliar umat Katolik, ia jarang terlibat dalam dewan internasional formal.
Namun, Vatikan memiliki jaringan diplomatik luas dan berstatus pengamat tetap di PBB posisi yang memungkinkan Takhta Suci menyuarakan pandangan moral tanpa harus terikat pada mekanisme politik negara.***
Sumber : Berbagai Sumber














