NARASITODAY.COM, JAKARTA – Meski hilal Ramadan baru saja tampak di ufuk, denyut nadi persiapan hari raya sudah terasa kuat di pelabuhan-pelabuhan bongkar muat Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya pergerakan signifikan pada arus masuk komoditas sandang dari luar negeri, menandakan para pelaku usaha mulai “mencuri start” untuk memenuhi kebutuhan baju baru masyarakat saat Idulfitri nanti.
Fenomena lonjakan impor ini menjadi sinyal bahwa optimisme konsumsi rumah tangga tetap tinggi di tengah situasi global yang dinamis. Pakaian dan aksesori jenis rajutan menjadi primadona yang paling banyak didatangkan ke tanah air untuk mengisi rak-rak pusat perbelanjaan.
Persiapan Sejak Januari
Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Senin (2/3/2026), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa para importir telah bergerak bahkan sejak sebulan sebelum Ramadan tiba.
Data BPS menunjukkan bahwa nilai impor untuk pakaian dan aksesori rajutan (kode HS61) menyentuh angka US$ 11,5 juta pada Januari 2026. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 13,33% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
“Perkembangan impor pakaian jadi di Januari tahun 2026, ini pakaian dan aksesorisnya atau yang kami sebut istilah rajutan atau HS61 ya, mencapai US$ 11,5 juta atau naik 13,33% secara year on year-nya,” ujar Ateng menjelaskan tren tersebut.
Namun, potret berbeda terlihat pada segmen pakaian konveksi lainnya. Di saat pakaian rajut tengah naik daun, kelompok pakaian dan aksesori yang bukan rajutan justru menunjukkan kelesuan di awal tahun ini.
Kelompok komoditas dengan kode HS62 tersebut tercatat hanya membukukan nilai impor sebesar US$ 10,7 juta. Alih-alih naik mengikuti tren musiman Lebaran, angka ini justru merosot tajam.
“Yang sekarang itu pakaian aksesoris bukan rajutan atau HS62. Tadi HS61 sekarang HS62 itu nilainya 10,7 juta USD atau turun 13,11 persen secara year on year atau Januari tahun 2026 dibandingkan dengan Januari tahun 2025,” tambah Ateng.
Penurunan ini mengindikasikan adanya pergeseran preferensi gaya busana atau strategi stok yang berbeda dari para peritel untuk menyambut hari kemenangan tahun ini. Meski demikian, secara keseluruhan, data awal tahun ini mengonfirmasi bahwa roda ekonomi sektor ritel mulai berputar kencang menyambut bulan suci.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














