NARASITODAY.COM,SEOULĀ – Kim Jong-un kini diyakini tengah mengamati peta dunia yang berubah drastis. Jatuhnya Presiden Venezuela Nicolas Maduro secara dramatis dan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam operasi militer AS-Israel telah mengirimkan gelombang kejut ke semenanjung Korea.
Bagi para pakar di Korea Selatan, peristiwa di Teheran dan Karakas bukan sekadar berita luar negeri, melainkan “pelajaran bertahan hidup” yang sangat personal bagi dinasti Kim. Pertanyaannya kini: apakah Kim akan merasa terpojok atau justru semakin yakin untuk memeluk erat senjata nuklirnya?
Antara Ketakutan dan Eksistensi
Sejauh ini, reaksi resmi Pyongyang masih terukur. Melalui Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada Minggu, Kementerian Luar Negeri Korut mengecam serangan AS-Israel sebagai “tindakan agresi ilegal.” Namun, ada satu detail yang mencolok yaitu mereka sama sekali tidak menyebut nama Presiden Donald Trump secara pribadi.
Lim Eul-chul, profesor dari Institut Studi Timur Jauh Universitas Kyungnam, menilai Kim tengah menarik kesimpulan pahit dari nasib Iran.
“Korea Utara mungkin akan fokus pada fakta bahwa Iran pada akhirnya diserang meskipun mengejar negosiasi nuklir dan mencoba mencapai kesepakatan tertentu,” ujar Lim, dikutip dari The Korean Herald, Sabtu (7/3/2026).
“Hampir tidak ada kemungkinan bahwa Pyongyang mempercayai ketulusan tawaran Washington tentang ‘dialog tanpa syarat.'”
Bagi Lim, operasi intelijen presisi dalam “Operasi Epic Fury” di Iran adalah pesan nyata bagi Kim. “Itu sama dengan ancaman eksistensial,” tambahnya, menekankan bahwa Pyongyang sangat sadar kemampuan intelijen AS bisa diterapkan dengan cara yang sama atau bahkan lebih tepat ke wilayah mereka.
“Keseimbangan Teror” atau Meja Runding
Alih-alih gemetar, Kim Jong-un tampaknya memilih strategi “tenang di permukaan”. Saat ketegangan di Timur Tengah memuncak, Kim justru terlihat mengunjungi pabrik semen ketimbang unit militer sebuah gestur simbolis yang menunjukkan kepercayaan diri.
Namun, di balik layar, kewaspadaan tetap tinggi. Leif-Eric Easley, profesor dari Universitas Wanita Ewha, menyoroti sisi psikologis Kim saat melihat rekaman warga Iran yang merayakan kejatuhan pemimpin mereka.
“Dia akan melihat rekaman warga Iran merayakan di jalanan… Dia pasti akan mengambil langkah-langkah untuk menghindari nasib serupa bagi keluarganya dan Korea Utara,” kata Easley.
Data dari Kementerian Unifikasi Seoul mendukung hal ini; dalam tiga tahun terakhir, Kim telah merombak komandan di tiga dari empat unit yang bertanggung jawab atas keamanan pribadinya.
Celah Diplomasi yang Tersisa
Meski ancaman senjata nuklir tetap menjadi “perisai” utama, beberapa analis melihat celah sempit bagi dialog. Yang Moo-jin, profesor dari Universitas Studi Korea Utara, berpendapat bahwa ketakutan akan nasib serupa bisa mendorong Kim untuk lebih lunak.
“Daripada menolak tawaran AS, Kim mungkin mulai mengambil langkah-langkah untuk menghindari ketidakpuasan Presiden Trump,” ungkap Yang.
Hal ini diperkuat dengan kondisi geopolitik lainnya. Jika perang Rusia-Ukraina mereda, ketergantungan Moskow pada amunisi Korea Utara akan menurun. Cho Han-bum dari Institut Unifikasi Nasional Korea menilai, membaiknya hubungan dengan Washington mungkin menjadi satu-satunya jalan keluar jika dukungan dari sekutu tradisional seperti Rusia dan China tak lagi sekuat dulu.
Kini, bola panas berada di tangan Pyongyang. Apakah Kim akan memilih membangun “benteng raksasa” melalui nuklir, atau mulai melangkah ke Beijing pada April mendatang untuk menemui Trump? Dunia tengah menanti apakah “keseimbangan teror” akan tetap menjadi pilihan tunggal sang Pemimpin Besar.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













