NARASITODAY.COM, SINGAPURA – Suasana perayaan Tahun Baru Imlek yang seharusnya dipenuhi kegembiraan, Menteri Senior Singapura Lee Hsien Loong justru membawa narasi serius mengenai ketegangan geopolitik global.
Pemerintah Singapura mengeluarkan peringatan tegas kepada rakyatnya terkait risiko serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, yang dikhawatirkan akan memicu lonjakan harga energi dan menimbulkan dampak domino bagi negara-negara yang jauh dari pusat konflik.
Pesan tersebut disampaikan Lee saat sambutan makan malam Tahun Baru Imlek di Klub Komunitas Teck Ghee, Sabtu (28/2/2026) lalu. Dalam orasinya, Lee menekankan bahwa konflik terbuka tersebut telah menciptakan titik balik ketidakpastian global yang secara langsung mengancam stabilitas perdagangan dan investasi, termasuk bagi Singapura.
Mantan Perdana Menteri itu melukiskan situasi yang genting, di mana eskalasi militer telah meluas ke berbagai penjuru kawasan.
“Israel dan AS bersama-sama menyerang Iran. Perang telah dimulai. Iran telah membalas – kota-kota, target di seluruh Timur Tengah, Israel sendiri, Doha, Kuwait, Bahrain, UEA,” tegas Lee, menggambarkan luasnya dampak serangan tersebut.
Mencatat potensi dampak jangka panjang dari perang, Lee mengingatkan bahwa awal konflik memang terlihat jelas, namun ujungnya sering kali tak terduga.
“Anda dapat melihat kapan perang akan dimulai. Sangat sulit untuk mengatakan bagaimana perang akan berakhir,” ujarnya.
Menurut Lee, perubahan dramatis situasi geopolitik ini menciptakan iklim ketidakpastian yang menyulitkan pelaku bisnis global. Ia menjelaskan bahwa kebingungan dalam merencanakan masa depan akan menjadi hambatan utama bagi perekonomian dunia.
“Karena bisnis dan perusahaan akan kesulitan merencanakan apa yang akan terjadi besok, apa yang dapat mereka andalkan, di mana mereka dapat berinvestasi dengan aman, apa yang harus mereka lakukan untuk memastikan bahwa perusahaan akan baik-baik saja lusa,” jelas pria yang merupakan putra sulung founding father Singapura, Lee Kuan Yew, tersebut.
Lee menegaskan kembali kerentanan Singapura sebagai negara dengan ekonomi terbuka di tengah badai ketidakpastian ini.
“Dan ini juga akan memengaruhi kita Singapura. Sebagai ekonomi negara yang ukurannya kecil dan terbuka, kita bergantung pada perdagangan dan investasi global,” tambahnya.
Antisipasi Tarif AS dan Optimisme Ekonomi
Pada kesempatan yang sama, Lee juga menyinggung isu ekonomi bilateral, khususnya terkait tarif impor AS yang baru-baru ini dinyatakan ilegal oleh Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat. Meski ada sisi yang menguntungkan, ia mendorong sikap pragmatis dan hati-hati.
“Jadi kami lega, tetapi saya pikir kita harus berjalan dengan sangat hati-hati, dan kita harus siap bahwa banyak perubahan lagi dapat terjadi,” pesan Lee.
Di balik berbagai ancaman global tersebut, Singapura mencatatkan kinerja ekonomi yang lebih baik dari ekspektasi. Lee mencatat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 5 persen, disertai peningkatan upah dan inflasi yang lebih rendah.
Meskipun ia berharap Singapura akan terus berkinerja baik pada tahun 2026, pria yang berpengalaman di panggung politik ini mengingatkan bahwa kejutan-kejutan baru sewaktu-waktu bisa saja muncul.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














