NARASITODAY.COM,JAKARTA – Di hanggar raksasa Korea Aerospace Industries (KAI), deru mesin KF-21 Boramae bukan sekadar suara teknis dari sebuah mesin perang. Bagi Indonesia, suara itu adalah detak jantung dari ambisi lama untuk memperkuat otot dirgantara dengan teknologi generasi 4.5. Setelah melalui perjalanan panjang penuh dinamika, jet tempur hasil kolaborasi Seoul dan Jakarta ini dipastikan akan segera berseragam Angkatan Udara Republik Indonesia (TNI AU).
Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) Korea Selatan melaporkan bahwa Indonesia akan menjadi negara mitra pengembang pertama yang menerima unit produksi massal jet tempur canggih ini. Langkah besar ini ditandai dengan rencana penandatanganan kesepakatan ekspor untuk pengadaan 16 unit KF-21 di sela kunjungan kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto ke Korea Selatan pada akhir Maret 2026.
Diplomasi Dirgantara di Akhir Maret
Kunjungan Presiden Prabowo ke Seoul bukan sekadar seremoni protokol. Ini adalah misi strategis untuk mengunci kontrak final yang dijadwalkan rampung pada paruh pertama tahun ini. Berdasarkan data industri, KF-21 dipatok pada rentang harga US$ 80 juta hingga US$ 100 juta per unit sebuah angka yang dinilai sangat kompetitif untuk menantang dominasi jet tempur kelas dunia lainnya.
Juru bicara Kantor Presiden Korea Selatan, Kang Yu-jung, mengonfirmasi bahwa pertemuan tingkat tinggi ini akan memperkuat hubungan kemitraan strategis khusus kedua negara.
“Kedua pemimpin akan membahas peningkatan kerja sama perdagangan, investasi, dan pertahanan guna membawa hubungan kemitraan strategis khusus antara Korea Selatan dan Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi,” ujar Kang Yu-jung dalam keterangan tertulisnya (13/3/2026).
Selain urusan jet tempur, agenda pembicaraan juga akan meluas ke sektor pertumbuhan baru seperti AI, energi nuklir, hingga transisi energi.
Perjalanan dari Visi Menuju Realitas
Program KF-21 Boramae (bahasa Korea untuk ‘Elang Muda’) memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak tahun 2000. Awalnya, proyek ini dirancang untuk menggantikan armada uzur F-4 dan F-5. Sempat diragukan karena isu kelayakan bisnis dan kerumitan teknologi, proyek ini kembali menemukan momentumnya pada 2015.
Kini, visi tersebut telah menjelma menjadi nyata. KF-21 telah sukses merampungkan uji terbang pada Januari 2026 lalu. Jadwal pengiriman unit pertama hasil pabrikan massal diproyeksikan mulai mengangkasa menuju pangkalan udara di Indonesia pada paruh kedua tahun 2026.
Safari Strategis Asia Timur
Sebelum mendarat di Seoul pada 31 Maret hingga 2 April, Presiden Prabowo terlebih dahulu akan mengunjungi Jepang pada 29-31 Maret. Pemerintah Jepang pun memberikan sambutan hangat atas kunjungan resmi ini melalui pernyataan resmi mereka.
“Kunjungan Presiden Prabowo akan menjadi kesempatan besar bagi kedua negara untuk lebih memperkuat kemitraan komprehensif dan strategis. Pemerintah Jepang dengan tulus menyambut kunjungan Presiden Prabowo,” tulis Kementerian Luar Negeri Jepang melalui akun resmi X mereka.
Safari diplomatik ke dua raksasa Asia Timur ini menegaskan posisi Indonesia yang kian sentral dalam menjaga keseimbangan kawasan. Dengan hadirnya 16 unit Boramae di masa depan, kedaulatan langit Nusantara tidak hanya akan lebih terjaga, tetapi juga menandai kemandirian teknologi pertahanan yang telah lama diimpikan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














