Konflik Timur Tengah Kabutkan Prospek Ekonomi India, Proyeksi Pertumbuhan Terancam Koreksi

0
India
Ilustrasi bendera india. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, NEW DELHI – Stabilitas ekonomi India kini berada di persimpangan jalan. Di tengah deru konflik yang memanas di Timur Tengah, harapan akan pertumbuhan ekonomi yang pesat mulai terbentur realitas pahit kenaikan harga energi dan rantai pasokan yang tersendat.

Laporan ekonomi bulanan pemerintah yang dirilis pada Sabtu (28/3/2026) mengungkapkan bahwa target pertumbuhan ekonomi India di angka 7,0% hingga 7,4% untuk tahun fiskal mendatang (mulai 1 April) kini menghadapi risiko penurunan yang serius.

Guncangan dari Selat Hormuz

Konflik yang pecah sebulan lalu menyusul serangan terhadap Iran telah memberikan efek domino yang melumpuhkan. Jalur pengiriman utama arteri bagi 20% pasokan minyak dunia kini menjadi zona berbahaya. Akibatnya, biaya logistik membubung tinggi, memaksa industri-industri di India untuk merogoh kocek lebih dalam.

Baca Juga :  Presiden Korsel Peringatkan Potensi Krisis Ekonomi Jika Tuntutan AS Diterima Tanpa Perlindungan Domestik

Ketidakpastian ini merembet ke pasar valuta asing. Pada Maret ini, mata uang Rupee melemah hingga menyentuh angka 95 per dolar AS, terpukul oleh arus modal keluar dan beban impor energi yang membengkak.

Menanti Kepastian di Bulan Mei

Kepala Penasihat Ekonomi India, V Anantha Nageswaran, dalam laporan tersebut menekankan bahwa pemerintah masih memantau situasi dengan cermat sebelum mengambil kesimpulan akhir.

Baca Juga :  Polisi Parungpanjang Kena Hukum Berat Usai Salah Amankan Warga

“Data frekuensi tinggi untuk bulan April, dan mungkin Mei, seharusnya memberikan gambaran yang lebih jelas tentang prospek pertumbuhan untuk tahun fiskal baru,” tulis Nageswaran dalam tinjauan pemerintah tersebut.

Ia juga memberikan peringatan mengenai kondisi finansial negara. Defisit neraca transaksi berjalan yang berada di angka 1,3% dari PDB pada kuartal akhir tahun lalu diperkirakan akan “memburuk secara signifikan” pada tahun fiskal berikutnya.

Perlindungan bagi yang Rentan

Meski permintaan domestik di dalam negeri masih menunjukkan ketahanan, laporan tersebut memperingatkan bahwa sektor-sektor yang bergantung pada bahan baku impor kini berada dalam zona merah.

Baca Juga :  Berpulangnya Komjen (Purn) Syafruddin Kambo, Tokoh-Tokoh Terkenal Lakukan Penghormatan Terakhir

Pemerintah India ditekankan untuk tidak tinggal diam dan segera meluncurkan jaring pengaman. Dalam laporan tersebut ditegaskan:

India perlu memberikan bantuan segera dan terarah kepada bisnis dan rumah tangga yang paling terdampak dan rentan.”

Kini, New Delhi tengah berpacu dengan waktu. Di satu sisi mereka harus menjaga api pertumbuhan tetap menyala, di sisi lain mereka harus meredam inflasi yang siap meledak akibat guncangan energi global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber