Badai Logistik Timur Tengah Menghadang, Kemenperin Desak Industri Lakukan Efisiensi Energi

0
Timur Tengah
Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin).Foto : Ist

NARASITODDAY.COM, JAKARTA – Sebuah tantangan besar kini membayangi lantai produksi industri nasional. Ketegangan rantai pasok global, terutama yang bersumber dari wilayah Timur Tengah, mulai memaksa para pelaku industri di Indonesia untuk memutar otak guna menjaga napas produksi mereka.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kini mengambil langkah responsif dengan mendorong sektor manufaktur untuk memperketat efisiensi energi. Strategi ini diambil sebagai bantalan agar target produksi tidak gembos di tengah melambungnya biaya logistik dan harga bahan baku impor.

Bahan Baku Hulu Mulai Tersendat

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengungkapkan bahwa meski aktivitas produksi saat ini masih berjalan normal, gangguan pasokan dari Timur Tengah tidak bisa dipandang sebelah mata. Stok bahan baku yang ada saat ini menjadi tumpuan utama agar roda pabrik tetap berputar.

Baca Juga :  Rendam Okra, 7 Alasan Kenapa Airnya Baik untuk Kesehatan

“Yang jelas untuk bahan baku pada industri hulu yang menggantungkan bahan bakunya dari Timur Tengah itu memang sedikit tersendat. Sampai saat ini industri yang sama masih berproduksi menggunakan bahan baku yang ada dan kemudian masih tetap akan berproduksi,” ujar Febri dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026).

Efek Domino pada Produk Petrokimia

Dampak dari tersendatnya pasokan ini mulai merambat ke pasar. Harga produk-produk turunan, terutama di sektor petrokimia seperti plastik dan olefin, menunjukkan tren kenaikan. Produk-produk ini merupakan “nyawa” bagi banyak sektor lain, mulai dari kemasan makanan dan minuman hingga komponen otomotif.

Baca Juga :  Mencari Tempat Trekking Ramah Anak? Ini Dia 5 Rekomendasi Terbaik di Bogor!

Febri menjelaskan bahwa pasar sedang melakukan penyesuaian alami terhadap tekanan biaya tersebut.

“Kami melihat ada kenaikan harga pada produk tertentu. Dan kami melihat bahwa itu adalah upaya oleh pasar untuk menyesuaikan harga pada produk-produk turunan dari bahan baku yang berasal dari Timur Tengah,” jelasnya.

Namun, ia menekankan bahwa hantaman krisis ini belum merata ke seluruh sektor. “Dampak dari krisis logistik energi di Timur Tengah ke industri masih sifatnya terbatas pada subsektor industri tertentu ya,” tegasnya.

Efisiensi Sebagai Solusi, Logistik Jadi Tantangan

Baca Juga :  Korea Utara Tegaskan Tidak Akan Terikat Perjanjian Senjata Nuklir, Tekankan Kedaulatan Nasional

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah meminta industri untuk menghemat penggunaan energi tanpa mengurangi output produksi. Efisiensi dianggap sebagai cara paling rasional untuk menjaga margin keuntungan yang kian tergerus oleh biaya logistik ekspor dan impor yang membengkak.

Meski demikian, Febri memperingatkan bahwa kenaikan biaya produksi ini adalah alarm bagi daya saing nasional. Jika tidak dimitigasi dengan tepat, indikator ekonomi industri seperti Indeks Kepercayaan Industri (IKI) dan Purchasing Managers’ Index (PMI) bisa mengalami kontraksi.

“Setiap terjadi kenaikan biaya energi itu akan menekan kinerja industri, baik itu nilai IKI untuk bulan-bulan selanjutnya maupun nilai PMI,” ungkap Febri menutup penjelasannya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com